Pemanfaatan Terjemah dalam Pembelajaran Cerita Bergambar SD
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya —Penggunaan fitur terjemah membantu siswa memahami cerita bergambar yang berasal dari luar negeri. Guru memberikan buku cerita sederhana berbahasa Inggris dan meminta siswa menerjemahkan beberapa kalimat. Dengan bantuan terjemah, anak mampu menangkap alur cerita dengan lebih jelas. Guru kemudian membahas hasil terjemahan untuk memperbaiki tata bahasa yang belum tepat. Aktivitas ini mengembangkan literasi dan daya analisis bahasa. Siswa belajar bahwa terjemahan tidak selalu bersifat harfiah. Terjemah berfungsi sebagai jembatan pemahaman awal.
Guru menugaskan siswa membuat ringkasan cerita berdasarkan hasil terjemah. Mereka menuliskan siapa tokoh utama, konflik, serta akhir cerita. Kegiatan ini melatih pemahaman bacaan dan kemampuan menulis kembali. Guru memberi waktu berdiskusi antar kelompok agar terjadi proses pemurnian makna. Anak saling bertukar pendapat tentang arti terbaik dari kalimat tertentu. Mereka menyadari banyak kata memiliki padanan yang berbeda. Terjemah membantu memperluas kosakata. Pembelajaran menjadi lebih mendalam.
Siswa membuat ilustrasi gambar berdasarkan isi cerita yang telah diterjemahkan. Mereka menggambar tokoh dan latar sesuai pemahaman masing-masing. Hasil gambar ditempel sebagai pajangan kelas. Guru menilai kecocokan antara isi cerita dan interpretasi visual siswa. Proses ini menggabungkan literasi bahasa dan seni. Terjemah menjadi pemantik kreativitas. Cerita tidak berhenti pada teks tetapi hidup dalam imajinasi anak.
Guru melakukan latihan terjemah lisan dalam kelompok kecil. Siswa membaca kalimat pendek kemudian menerjemahkannya secara bergiliran. Aktivitas ini mengasah keberanian berbicara dan berpikir cepat. Anak belajar menyusun hasil terjemahan dengan struktur bahasa Indonesia yang lebih natural. Kesalahan dibahas sebagai sarana belajar, bukan hukuman. Lingkungan pembelajaran menjadi ramah dan cair. Terjemah membangun kepercayaan diri bahasa.
Di tahap lanjutan, siswa diminta menerjemahkan dialog sederhana menjadi drama kelas. Mereka memerankan karakter sesuai teks terjemahan. Aktivitas ini menyatukan kemampuan membaca, berbicara, dan ekspresi tubuh. Guru memberikan penilaian berdasarkan kelancaran dialog dan penghayatan cerita. Siswa merasa bangga karena dapat menampilkan karya hasil terjemah sendiri. Drama memberikan pengalaman belajar bermakna. Bahasa menjadi bagian dari ekspresi.
Guru mengajak siswa membandingkan dua hasil terjemah yang berbeda. Satu versi dari mesin, satu lagi dari pemahaman kelompok. Siswa menilai mana yang lebih tepat dan alami dibaca. Mereka belajar melihat kelemahan dan kelebihan terjemah otomatis. Diskusi ini melatih pemikiran kritis dan kebijakan bahasa. Siswa semakin cermat saat menggunakan terjemahan. Terjemah menjadi alat belajar yang bijaksana.
Kesimpulannya, penggunaan terjemah mampu meningkatkan literasi, kreativitas, dan komunikasi siswa SD. Guru mengarahkan agar siswa tidak hanya menerima hasil terjemahan, tetapi memahaminya. Kegiatan seni, drama, dan diskusi memperkaya pembelajaran. Bahasa asing tidak lagi menakutkan karena bisa dijembatani secara mudah. Siswa membangun pemahaman melalui proses bertahap. Pembelajaran menjadi menyenangkan dan aplikatif. Terjemah adalah sahabat belajar cerita anak.
Penulis : Nia Ayu Anggraeni
Sumber : Google