Pemanfaatan Translate dalam Pembelajaran Karakter di Sekolah Dasar
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya —Translate dapat digunakan bukan hanya untuk belajar bahasa tetapi juga memahami nilai-nilai karakter. Siswa dapat menerjemahkan cerita pendek dari berbagai budaya. Guru kemudian mengajak anak mendiskusikan nilai moral dalam cerita tersebut. Aktivitas ini memperluas wawasan siswa terhadap budaya dunia. Anak juga belajar menghargai keberagaman melalui cerita yang diterjemahkan. Translate membantu siswa memahami teks yang sebelumnya sulit dipahami. Teknologi ini memberikan pendekatan baru dalam pembelajaran karakter.
Guru mengajak siswa membandingkan terjemahan otomatis dengan pemahaman mereka sendiri. Anak jadi belajar bahwa makna cerita tidak hanya ada pada kata-kata. Mereka belajar memahami pesan moral di balik cerita. Guru mengarahkan diskusi ke contoh situasi di kehidupan nyata. Siswa belajar membangun empati dari cerita yang mereka baca. Translate menjadi pemicu diskusi yang kaya makna. Teknologi dan pendidikan karakter menjadi saling melengkapi.
Translate juga dapat digunakan untuk mempelajari peribahasa dari negara lain. Siswa menemukan bahwa peribahasa memiliki makna yang mirip meski bahasanya berbeda. Guru menjelaskan hubungan antara peribahasa dan kebiasaan masyarakat. Anak belajar memaknai nilai-nilai baik yang universal. Aktivitas ini memperkaya aspek literasi budaya siswa. Kerja kelompok membantu siswa memahami makna peribahasa secara lebih mendalam. Translate memperluas perspektif anak mengenai budaya dan moral.
Cerita rakyat juga sering digunakan dalam pembelajaran karakter. Guru meminta siswa menerjemahkan bagian tertentu menggunakan aplikasi. Siswa kemudian menceritakan ulang dengan bahasa mereka sendiri. Aktivitas ini mengembangkan kemampuan komunikasi dan pemahaman moral. Guru memberi kesempatan siswa menyampaikan pendapat pribadi. Interaksi ini meningkatkan rasa percaya diri dan pemahaman nilai. Translate membantu mempermudah proses belajar.
Guru tetap memberikan arahan agar siswa tidak hanya mengandalkan Translate. Anak diajak memahami konteks dan makna yang lebih luas. Guru menjelaskan bahwa terjemahan otomatis tidak selalu tepat. Keseimbangan antara teknologi dan diskusi manusia tetap diperlukan. Siswa belajar berpikir kritis terhadap hasil terjemahan. Guru membimbing agar fokus pembelajaran tetap pada nilai moral. Translate menjadi alat bantu, bukan tujuan utama.
Orang tua juga dapat mendukung pembelajaran karakter dengan Translate. Anak dapat menerjemahkan cerita di rumah lalu berdiskusi dengan orang tua. Aktivitas ini mempererat hubungan keluarga melalui pembelajaran moral. Orang tua bisa memberi contoh penerapan nilai-nilai dalam kehidupan sehari-hari. Siswa belajar bahwa nilai moral berlaku di rumah maupun di sekolah. Translate membantu keluarga memahami cerita asing dengan mudah. Teknologi memperkaya interaksi antara rumah dan sekolah.
Secara keseluruhan, Translate memberi manfaat luas dalam pembelajaran karakter. Cerita asing yang diterjemahkan memberikan wawasan baru bagi siswa. Guru dapat mengembangkan diskusi yang bermakna dari teks terjemahan. Anak merasa terlibat aktif dalam memahami nilai moral. Orang tua juga ikut mendukung proses pembelajaran. Translate memperluas cakrawala moral dan budaya anak. Teknologi ini membawa warna baru dalam pendidikan karakter sekolah dasar.
Penulis : Nia Ayu Anggraeni
Sumber : Google