Pembelajaran Bahasa di SD yang Sensitif terhadap Trauma Usai Bencana
Setelah
terjadinya bencana, pengalaman trauma dapat memengaruhi kemampuan belajar
siswa, termasuk dalam mata pelajaran bahasa. Guru perlu merancang pembelajaran
yang ramah emosi, terutama bagi siswa yang terdampak banjir. Menghadirkan
materi yang ringan, komunikatif, dan relevan dapat membantu memulihkan kondisi
psikologis mereka. Penggunaan media digital sederhana dapat mendukung proses
belajar yang lebih fleksibel.
Salah
satu alat yang dapat digunakan adalah fitur translate. Dengan alat ini, siswa
dapat belajar kosakata baru secara perlahan dan sesuai kebutuhan. Guru dapat
memilih kata-kata yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari agar pembelajaran
terasa dekat dan aman bagi siswa. Translate menjadi alat bantu, bukan pusat
pembelajaran, sehingga tetap memerlukan pendampingan guru.
Aktivitas
pembelajaran dapat dilakukan melalui permainan bahasa, dialog sederhana, atau
latihan kosakata berbasis gambar. Hal ini memberi ruang bagi siswa untuk
mengeksplorasi bahasa tanpa tekanan. Selain itu, guru dapat memberikan
kesempatan kepada siswa untuk berbagi cerita menggunakan kombinasi kata yang
mereka pelajari. Kegiatan ini membantu memulihkan rasa percaya diri dalam
berkomunikasi.
Guru
harus peka terhadap tanda-tanda kelelahan mental pada siswa. Misalnya, ketika
anak tampak mudah cemas, sulit fokus, atau enggan berpartisipasi. Dalam kondisi
ini, aktivitas dapat disesuaikan menjadi lebih ringan atau diarahkan pada
kegiatan reflektif. Tujuan utama bukan kejar materi, melainkan membantu
pemulihan emosi anak.
Dengan
memasukkan alat bantu seperti translate dalam pembelajaran yang berfokus pada
trauma healing, siswa dapat belajar dengan lebih nyaman. Pendekatan ini
membantu memperlambat alur belajar tanpa mengurangi kualitasnya. Pembelajaran
bahasa pun menjadi sarana pemulihan dan penguatan diri. Pada akhirnya, siswa
dapat kembali beradaptasi dengan ritme sekolah secara bertahap.
###
Penulis:
Arumita Wulan Sari