Pembelajaran Kolaboratif Mengasah Kepercayaan Diri Anak dalam Interaksi Sehari-hari
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya —Kepercayaan diri anak tidak hanya tampak saat
presentasi di kelas, tetapi juga dalam interaksi sehari-hari. Pembelajaran
kolaboratif memberi latihan sosial yang berulang. Anak terbiasa berbicara,
mendengar, dan menanggapi. Proses ini membentuk kebiasaan positif. Anak tidak
lagi canggung berinteraksi. Kepercayaan diri menjadi bagian dari keseharian.
Dalam kerja
kelompok, anak belajar menyesuaikan diri dengan berbagai karakter. Mereka
menghadapi teman yang aktif, pendiam, atau kritis. Pengalaman ini melatih
fleksibilitas sosial. Anak belajar memilih cara berkomunikasi yang tepat.
Kesadaran sosial berkembang seiring waktu. Kepercayaan diri pun menjadi lebih
adaptif.
Pembelajaran
kolaboratif juga memperkuat rasa tanggung jawab. Anak merasa bertanggung jawab
terhadap kelompoknya. Mereka belajar menyelesaikan tugas bukan hanya untuk diri
sendiri. Rasa memiliki memperkuat motivasi. Anak merasa perannya penting.
Kepercayaan diri tumbuh dari rasa tanggung jawab tersebut.
Di tengah arus
konten digital yang sering menampilkan kepercayaan diri instan, pembelajaran
kolaboratif menawarkan proses yang lebih mendalam. Anak belajar bahwa
kepercayaan diri dibangun melalui proses. Tidak semua keberhasilan langsung
terlihat. Kesabaran menjadi bagian dari pembelajaran. Nilai ini penting bagi
perkembangan jangka panjang.
Dengan
demikian, pembelajaran kolaboratif membentuk kepercayaan diri yang nyata dan
berkelanjutan. Anak tidak hanya tampil percaya diri, tetapi juga mampu
berinteraksi dengan sehat. Pendidikan memberi bekal sosial yang kuat. Anak siap
menghadapi lingkungan yang lebih luas. Proses belajar menjadi lebih bermakna
Penulis: Resinta Aini Z.