Pembelajaran Kolaboratif Menjadi Ruang Aman Anak SD Membangun Keberanian Sosial
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya —Keberanian sosial sering kali menjadi
tantangan bagi anak usia sekolah dasar. Tidak semua anak mudah berbicara di
depan orang lain atau menyampaikan pendapat. Pembelajaran kolaboratif
menciptakan ruang aman untuk melatih keberanian tersebut. Anak tidak sendirian
ketika harus berpendapat. Dukungan kelompok mengurangi rasa cemas dan takut
salah. Proses ini berlangsung secara bertahap. Keberanian tumbuh seiring rasa
aman yang terbangun.
Dalam kelompok
kecil, anak lebih leluasa berekspresi. Mereka belajar berbicara tanpa tekanan
formal. Kesempatan ini melatih anak menyampaikan ide secara sederhana namun
jelas. Teman sebaya menjadi pendengar pertama yang penting. Respons yang
positif memperkuat rasa percaya diri. Anak belajar bahwa suaranya layak
didengar. Keberanian sosial pun meningkat secara alami.
Pembelajaran
kolaboratif juga melatih anak menghadapi penilaian sosial. Anak belajar
menerima masukan dan kritik dengan lebih terbuka. Mereka memahami bahwa masukan
tidak selalu berarti penolakan. Proses ini membentuk ketahanan emosional. Anak
tidak mudah mundur ketika ide ditanggapi berbeda. Kepercayaan diri menjadi
lebih kuat dan realistis.
Di tengah
budaya digital yang sering menampilkan keberanian semu di layar, pengalaman
nyata menjadi sangat penting. Pembelajaran kolaboratif menghadirkan keberanian
yang berakar pada interaksi langsung. Anak belajar membaca ekspresi dan bahasa
tubuh. Interaksi sosial menjadi lebih utuh. Keterampilan ini tidak dapat
digantikan oleh interaksi virtual semata.
Melalui
pembelajaran kolaboratif, anak tidak hanya berani berbicara, tetapi juga berani
menjadi diri sendiri. Keberanian sosial yang tumbuh bersifat inklusif dan
empatik. Anak belajar hadir tanpa harus mendominasi. Pendidikan pun memberi
ruang bagi keberagaman karakter. Inilah keberanian yang dibutuhkan di masa
depan.
Penulis: Resinta Aini Z.