Pembelajaran Tanpa Coretan dan Tantangan Mengingat
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Dunia belajar kini semakin bersih dari noda tinta dan coretan acak. Segalanya tersaji rapi dalam format digital yang mudah diperbaiki. Kesalahan tidak lagi meninggalkan bekas. Dalam pandangan efisiensi, kondisi ini terasa ideal. Namun coretan dan kesalahan pernah menjadi bagian penting dari proses belajar. Di sanalah ingatan menemukan jalannya.
Menulis dengan tangan memberi ruang bagi pikiran untuk berhenti sejenak. Jeda kecil ini memungkinkan refleksi dan koreksi diri. Proses tersebut membantu otak membangun struktur pengetahuan. Tanpa jeda, informasi datang bertubi-tubi tanpa sempat diolah. Ingatan bekerja cepat, tetapi tidak mendalam. Pengetahuan menjadi rapuh.
Di berbagai platform digital, keberhasilan belajar sering diukur dari tampilan hasil akhir. Jawaban yang benar langsung muncul tanpa menunjukkan prosesnya. Narasi ini membentuk persepsi bahwa belajar tidak perlu rumit. Namun belajar yang terlalu sederhana menghilangkan tantangan kognitif. Tanpa tantangan, ingatan tidak terlatih untuk bertahan. Ia mudah tergantikan oleh informasi baru.
Memori kinestetik tumbuh dari interaksi antara pikiran dan tubuh. Setiap gerakan menulis memperkuat hubungan tersebut. Coretan yang salah justru menjadi penanda perjalanan belajar. Ketika semua kesalahan dihapus tanpa jejak, proses belajar kehilangan sejarahnya. Ingatan tidak memiliki titik rujukan. Akibatnya, pemahaman menjadi dangkal.
Efisiensi memang membantu menghemat waktu dan tenaga. Namun waktu yang dihemat sering mengorbankan proses penting. Belajar menjadi aktivitas yang cepat selesai, tetapi cepat pula dilupakan. Ingatan memerlukan pengulangan dan keterlibatan. Tanpa itu, pengetahuan hanya singgah sebentar. Buku tulis dulu menyediakan ruang bagi proses tersebut.
Dalam keseharian, anak sering lebih nyaman memilih jawaban daripada merumuskan sendiri. Pilihan ganda terasa lebih mudah daripada menulis kalimat. Situasi ini mencerminkan perubahan cara berpikir. Ingatan tidak dilatih untuk membangun narasi. Ia hanya mengenali pola yang sudah tersedia.
Masa depan pembelajaran menuntut kesadaran akan nilai proses. Buku tulis mungkin bukan satu-satunya alat, tetapi prinsip yang dibawanya tetap relevan. Tantangan kecil dalam menulis membantu ingatan tumbuh kuat. Tanpa tantangan itu, belajar kehilangan daya tahan. Efisiensi perlu diimbangi dengan kedalaman.
Penulis: Resinta Aini Z.