Pemecahan Masalah sebagai Inti Paradigma Belajar Masa Kini
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya - Paradigma belajar terus berkembang mengikuti tuntutan zaman. Hafalan yang dulu dominan kini menghadapi keterbatasan. Tantangan masa kini bersifat kompleks dan dinamis. Dalam konteks ini, pemecahan masalah muncul sebagai inti paradigma baru. Ia menempatkan berpikir sebagai pusat aktivitas belajar. Proses belajar diarahkan pada pemahaman mendalam. Paradigma ini menuntut keterlibatan aktif individu. Belajar tidak lagi bersifat satu arah.
Pemecahan masalah mengintegrasikan berbagai kemampuan berpikir. Analisis, sintesis, dan evaluasi berjalan bersamaan. Proses ini mencerminkan cara berpikir nyata. Masalah disikapi secara holistik. Pendekatan ini memperkaya pengalaman belajar.
Paradigma ini juga menekankan relevansi belajar dengan kehidupan. Masalah yang dihadapi terasa nyata. Relevansi meningkatkan motivasi intrinsik. Motivasi ini mendorong keterlibatan yang lebih dalam. Belajar menjadi kebutuhan, bukan kewajiban.
Pemecahan masalah memperkuat kemampuan beradaptasi. Situasi berubah menuntut strategi baru. Individu terbiasa menyesuaikan cara berpikir. Adaptasi ini penting dalam menghadapi ketidakpastian. Hafalan tidak mampu memberikan fleksibilitas ini.
Selain itu, pemecahan masalah menumbuhkan kolaborasi pemikiran. Ide bertemu dan dipertukarkan. Pertukaran ini memperluas sudut pandang. Dari kolaborasi lahir solusi yang lebih kaya. Proses ini mencerminkan dinamika dunia nyata.
Paradigma pemecahan masalah juga memperkuat refleksi berkelanjutan. Setiap solusi dievaluasi. Evaluasi menjadi dasar perbaikan. Proses ini menjaga kualitas berpikir. Belajar menjadi perjalanan tanpa titik akhir.
Pada akhirnya, pemecahan masalah sebagai inti paradigma belajar masa kini menjadikan belajar lebih relevan dan bermakna. Paradigma ini menyiapkan individu menghadapi dunia yang terus berubah. Belajar menjadi proses memahami dan mencipta solusi.
###
Penulis: Resinta Aini Zakiyah