Pendidikan Dasar dan Anak yang Kehilangan Figur Ayah atau Ibu
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Tidak semua anak sekolah dasar tumbuh dalam keluarga utuh. Ada anak yang kehilangan ayah atau ibu karena berbagai sebab. Kondisi ini memengaruhi perkembangan emosional anak. Sekolah sering menjadi ruang pelarian dan harapan. Pendidikan dasar memikul tanggung jawab sosial yang besar.
Anak dengan kehilangan figur orang tua sering menunjukkan perilaku tertentu. Ada yang menjadi pendiam, ada pula yang agresif. Guru perlu memahami latar belakang anak. Tanpa empati, anak bisa salah dipahami. Pendidikan dasar membutuhkan pendekatan yang sensitif.
Sekolah tidak bisa menggantikan peran orang tua sepenuhnya. Namun, sekolah bisa menjadi ruang aman. Relasi yang hangat antara guru dan siswa sangat berarti. Anak membutuhkan figur dewasa yang bisa dipercaya. Pendidikan dasar memiliki peran moral di sini.
Pendekatan pembelajaran juga perlu disesuaikan. Anak membutuhkan dukungan emosional, bukan tekanan akademik. Konseling dan pendampingan menjadi penting. Sekolah dasar harus bekerja sama dengan berbagai pihak. Anak tidak boleh dibiarkan sendiri.
Pendidikan dasar adalah ruang harapan bagi banyak anak. Di sanalah mereka belajar bertahan dan bermimpi. Kehilangan bukan akhir segalanya. Dengan dukungan yang tepat, anak bisa tumbuh kuat. Sekolah harus hadir dengan empati.
###
Penulis: Aida Meilina