Pendidikan Dasar dan Tantangan Anak Pasca Pandemi
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Pandemi meninggalkan jejak panjang dalam dunia pendidikan dasar. Anak-anak mengalami learning loss dan kesenjangan pembelajaran. Banyak siswa kelas rendah belum memiliki kemampuan literasi dan numerasi dasar. Kondisi ini menjadi tantangan serius bagi sekolah. Pemulihan pembelajaran tidak bisa dilakukan secara instan.
Selain aspek akademik, pandemi juga memengaruhi perkembangan sosial anak. Anak-anak kehilangan kesempatan berinteraksi secara langsung. Keterampilan sosial dan emosional mereka terhambat. Sekolah dasar kini menghadapi anak-anak dengan kebutuhan psikososial yang lebih kompleks. Pendidikan tidak bisa kembali ke pola lama begitu saja.
Guru menghadapi dilema antara mengejar ketertinggalan materi dan memenuhi kebutuhan emosional siswa. Kurikulum sering tidak fleksibel menghadapi realitas ini. Anak-anak dipaksa mengejar target tanpa mempertimbangkan kesiapan mereka. Pendidikan dasar membutuhkan pendekatan yang lebih adaptif. Pembelajaran harus berpusat pada anak.
Peran orang tua juga berubah pascapandemi. Banyak orang tua lebih terlibat dalam pendidikan anak. Namun, tidak semua memiliki kapasitas yang sama. Sekolah perlu membangun kemitraan yang sehat dengan keluarga. Pendidikan dasar tidak bisa berjalan sendiri. Kolaborasi menjadi kunci pemulihan.
Pandemi mengajarkan bahwa pendidikan dasar harus tangguh menghadapi krisis. Fleksibilitas, empati, dan inovasi menjadi nilai penting. Sekolah perlu menjadi ruang pemulihan, bukan tekanan baru. Anak-anak membutuhkan waktu dan dukungan. Pendidikan dasar harus hadir dengan wajah yang lebih manusiawi.
####
Penulis: Aida Meilina