Pendidikan Karakter di Sekolah Dasar: Antara Wacana dan Praktik
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Pendidikan karakter sering menjadi jargon dalam kebijakan pendidikan dasar. Nilai-nilai seperti kejujuran, disiplin, dan tanggung jawab terus digaungkan. Namun, implementasinya sering tidak konsisten. Pendidikan karakter masih sebatas slogan di dinding sekolah. Anak-anak membutuhkan keteladanan nyata.
Sekolah dasar sering fokus pada capaian akademik. Nilai rapor menjadi ukuran utama keberhasilan. Akibatnya, pendidikan karakter terpinggirkan. Padahal, usia sekolah dasar adalah fase krusial pembentukan karakter. Pendidikan tidak boleh hanya mengejar angka.
Lingkungan sekolah sangat memengaruhi pembentukan karakter anak. Relasi guru dan siswa, budaya sekolah, serta cara menyelesaikan konflik menjadi contoh nyata. Anak-anak belajar dari apa yang mereka lihat dan alami. Jika sekolah tidak adil dan empatik, nilai karakter sulit tumbuh. Pendidikan dasar harus membangun ekosistem yang sehat.
Isu ini semakin penting di tengah krisis moral dan sosial. Kasus intoleransi, kekerasan, dan korupsi berakar dari kegagalan pendidikan nilai. Sekolah dasar memiliki peran strategis dalam mencegah hal ini. Pendidikan karakter harus kontekstual dan relevan dengan kehidupan anak. Nilai harus dihidupi, bukan dihafalkan.
Menguatkan pendidikan karakter membutuhkan refleksi bersama. Guru, orang tua, dan sekolah harus sejalan. Pendidikan dasar harus menjadi ruang pembelajaran nilai-nilai kemanusiaan. Anak-anak adalah cermin masa depan bangsa. Karakter yang kuat lahir dari pendidikan yang bermakna.
####
Penulis: Aida Meilina