Pendidikan Kebencanaan di Sekolah Dasar: Pelajaran dari Bencana Aceh dan Sumut
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya —Bencana alam yang kembali melanda Aceh dan Sumatera Utara beberapa waktu terakhir mengingatkan kita bahwa pendidikan kebencanaan bukan lagi opsi, tetapi kebutuhan mendesak. Sekolah dasar sebagai fondasi pendidikan nasional memiliki peran vital dalam membentuk kesiapsiagaan generasi muda. Anak-anak merupakan kelompok rentan yang memerlukan pendidikan berbasis pemahaman risiko dan respons tanggap darurat sejak dini. Kurikulum yang memasukkan literasi bencana dapat membantu meminimalkan dampak psikologis dan fisik ketika musibah terjadi. Pendidikan kebencanaan bukan sekadar pengetahuan teknis, melainkan kemampuan berpikir kritis terhadap lingkungan sekitar.
Tragedi banjir bandang di Sumut dan gempa di Aceh menunjukkan belum meratanya program mitigasi di sekolah dasar. Banyak guru mengaku belum memiliki kapasitas pedagogis untuk menyampaikan materi kebencanaan secara sistematis. Hal ini diperparah oleh terbatasnya modul edukasi yang sesuai dengan konteks lokal dan usia anak sekolah dasar. Situasi tersebut membuat literasi bencana menjadi bersifat responsif dan sporadis, bukan preventif dan terstruktur. Padahal, UNESCO mendorong integrasi pendidikan risiko bencana sebagai kompetensi dasar abad ke-21.
Pengalaman negara lain menunjukkan bahwa simulasi berkala dapat meningkatkan kesiapan anak menghadap bencana. Jepang, misalnya, menekankan pembiasaan melalui latihan rutin serta penyediaan ruang aman di setiap sekolah. Adaptasi praktik serupa di Indonesia memungkinkan siswa belajar memahami peran diri, komunikasi efektif, dan pengambilan keputusan dalam keadaan darurat. Kegiatan seperti peta risiko sekolah, latihan evakuasi, dan proyek sains kebencanaan dapat menjadi strategi pembelajaran berbasis pengalaman. Semua ini membantu anak memahami hubungan antara fenomena alam dan perilaku manusia.
Namun, pendidikan kebencanaan perlu dikaitkan dengan psikologi anak, terutama dalam konteks ketakutan dan trauma. Guru perlu dibekali kemampuan memberikan pendekatan empatik dan menenangkan saat menyampaikan materi sensitif. Pengintegrasian konseling dasar akan membantu siswa memaknai bencana bukan sebagai ancaman semata, tetapi sebagai fenomena alam yang bisa dikelola dengan pengetahuan. Ketika siswa merasa aman, mereka lebih mudah menerima konsep mitigasi dan tindakan penyelamatan diri. Oleh karena itu, pembaruan kompetensi guru menjadi langkah sentral.
Ke depan, kebijakan pendidikan kebencanaan harus dikuatkan melalui kolaborasi antarsektor. Pemerintah daerah, sekolah, lembaga kemanusiaan, dan masyarakat perlu bekerja bersama memperkuat ekosistem kesiapsiagaan. Siswa tidak hanya diajarkan teori, tetapi juga dilibatkan dalam aksi nyata seperti kampanye lingkungan dan pengurangan risiko bencana berbasis sekolah. Dengan demikian, pendidikan dasar berfungsi sebagai ruang untuk membentuk warga muda yang tangguh menghadapi situasi sulit. Aceh dan Sumut menjadi pengingat bahwa kesiapan pendidikan adalah pertahanan pertama kita.
####
Penulis: Aida Meilina