Penerjemahan sebagai Keterampilan Literasi Baru dalam Pendidikan Dasar
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Penerjemahan semakin dipandang sebagai keterampilan literasi baru yang relevan diajarkan sejak pendidikan dasar. Dalam konteks dunia global, anak-anak terbiasa menjumpai bahasa asing melalui media digital. Melatih penerjemahan tidak berarti mengajarkan teori linguistik yang rumit, tetapi membiasakan siswa memahami makna lintas bahasa. Aktivitas sederhana seperti menerjemahkan poster, menu aplikasi, atau teks pendek mampu meningkatkan kepekaan berbahasa. Oleh karena itu, penerjemahan dapat dimasukkan sebagai bagian dari literasi multilayer siswa SD.
Kegiatan penerjemahan juga melatih kemampuan berpikir kritis. Siswa harus memahami konteks, memilih padanan kata yang tepat, dan menyampaikan kembali pesan yang setara. Proses ini menuntut analisis, sintesis, dan evaluasi, yang seluruhnya merupakan keterampilan kognitif tingkat tinggi. Dengan demikian, penerjemahan bukan hanya soal bahasa, tetapi juga latihan bernalar. Keterampilan ini akan membantu siswa menghadapi tantangan literasi abad ke-21.
Penerapan kegiatan penerjemahan di SD dapat dilakukan melalui berbagai media. Guru dapat mengajak siswa menerjemahkan instruksi sederhana pada aplikasi edukatif. Bisa juga menggunakan kartu kosakata bergambar atau dialog pendek dalam video pembelajaran. Media audiovisual membuat proses penerjemahan terasa lebih alami dan menyenangkan. Dengan cara ini, siswa tidak merasa sedang belajar hal yang sulit.
Selain meningkatkan kemampuan bahasa, penerjemahan menumbuhkan sikap menghargai keberagaman budaya. Setiap bahasa membawa nuansa dan cara pandang tertentu yang menarik untuk dipelajari. Melalui penerjemahan, siswa belajar bahwa makna tidak selalu dapat dipindahkan secara langsung. Mereka belajar tentang perbedaan ekspresi, gaya, dan konteks budaya. Dengan demikian, penerjemahan membantu membentuk karakter toleran dan terbuka.
Di era teknologi, banyak alat penerjemah otomatis yang dapat dimanfaatkan dalam pembelajaran. Namun, guru perlu menekankan bahwa alat tersebut hanya pendukung, bukan pengganti kemampuan berpikir. Siswa perlu belajar menilai apakah hasil terjemahan sudah akurat dan sesuai konteks. Kegiatan reflektif semacam ini membuat mereka menjadi pengguna teknologi yang bijak. Oleh sebab itu, penerjemahan layak menjadi salah satu pendekatan literasi kritis dalam pendidikan dasar.
Penulis: Aida Meilina
Sumber: images.google.com