Penguatan Karakter Anak Melalui Pendidikan Sosial-Emosional (SEL)
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya —Pendidikan sosial-emosional atau SEL semakin relevan ketika melihat dampak luas bencana yang terjadi di berbagai wilayah Indonesia. Anak sekolah dasar membutuhkan keterampilan untuk memahami emosi, mengelola konflik, dan membangun empati. Situasi darurat seperti di Aceh dan Sumut menunjukkan bahwa kemampuan ini tidak kalah penting dari kompetensi akademik. SEL membantu anak memahami perubahan di sekeliling mereka secara lebih sehat. Dengan bekal ini, anak memiliki landasan kuat untuk tumbuh menjadi pribadi resilien.
Implementasi SEL di sekolah dasar dapat dilakukan melalui permainan kooperatif, diskusi kelompok, dan aktivitas refleksi terstruktur. Anak diajak mengenali perasaan sendiri dan orang lain melalui bahasa yang sederhana namun bermakna. Guru dapat memberi contoh cara menenangkan diri atau cara meminta bantuan ketika merasa takut. Strategi ini menciptakan budaya kelas yang penuh empati dan saling dukung. Lingkungan seperti ini sangat penting bagi anak yang sedang pulih dari pengalaman traumatis.
Pendekatan SEL harus bersifat preventif sekaligus responsif. Preventif berarti memupuk kecakapan emosional sebelum anak menghadapi kesulitan besar. Responsif berarti memberi dukungan ketika anak sedang berada dalam situasi tidak stabil. Dalam konteks bencana, guru dapat mengaitkan kegiatan SEL dengan kisah nyata tentang keberanian dan solidaritas warga. Ini membuat pembelajaran emosional lebih relevan dan mudah dipahami. Anak belajar bahwa emosi adalah bagian dari pengalaman manusia yang bisa dikelola.
Keluarga juga berperan penting dalam penguatan pendidikan sosial-emosional. Orang tua perlu berdialog dengan anak, mendengarkan cerita mereka, dan memberi ruang aman untuk berekspresi. Ketika sekolah dan keluarga saling bekerja sama, anak mendapatkan konsistensi dalam memahami dan mengelola emosinya. Dampaknya terlihat pada peningkatan kemampuan beradaptasi dan kualitas hubungan sosial. Ini menjadi fondasi penting bagi kehidupan anak di masa depan.
Pendidikan sosial-emosional adalah investasi jangka panjang bagi stabilitas psikologis generasi muda. Anak yang mampu memahami dan mengelola emosi cenderung lebih siap menghadapi perubahan dan tantangan hidup. Dalam era ketidakpastian dan bencana yang semakin sering, kemampuan ini menjadi kebutuhan fundamental. Sekolah dasar perlu memastikan bahwa SEL bukan sekadar tambahan, tetapi bagian dari jati diri pembelajaran. Dengan begitu, pendidikan tidak hanya mencerdaskan, tetapi juga memanusiakan.
####
Penulis: Aida Meilina