“Peran Dosen di Era Al Antara: Antara Tugas Memberi Nilai dan Menanamkan Nalar”
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Di era Al Antara yang penuh dengan kemajuan teknologi, peran dosen dalam pendidikan tinggi semakin kompleks dan beragam. Dosen tidak hanya diharapkan untuk menjalankan tugas tradisional mereka sebagai pemberi nilai, tetapi juga harus mampu menanamkan kemampuan berpikir kritis dan nalar yang kuat pada mahasiswa. Kedua tugas ini memiliki bobot yang sama pentingnya dan perlu dikelola dengan seimbang agar pendidikan dapat memberikan manfaat yang maksimal bagi mahasiswa.
Tugas memberi nilai merupakan bagian integral dari sistem pendidikan yang telah ada sejak lama. Nilai berfungsi sebagai alat untuk mengukur sejauh mana mahasiswa telah memahami materi pelajaran, menguasai kompetensi yang dibutuhkan, dan siap untuk melanjutkan tahap pendidikan selanjutnya atau memasuki dunia kerja. Proses penilaian juga membantu dosen dalam mengevaluasi efektivitas metode pembelajaran yang digunakan dan melakukan penyesuaian jika diperlukan. Di era Al Antara, meskipun akses informasi menjadi lebih mudah, tugas memberi nilai tetap relevan sebagai bentuk akuntabilitas akademik dan ukuran pencapaian dasar mahasiswa.
Sementara itu, tugas menanamkan nalar menjadi semakin krusial seiring dengan maraknya penyebaran informasi yang tidak terverifikasi dan kemudahan akses terhadap alat bantu yang bisa menggantikan proses berpikir mandiri. Al Antara seringkali digunakan untuk menghasilkan jawaban atau karya secara instan, namun tanpa pemahaman mendalam dari mahasiswa tentang materi yang disajikan. Hal ini dapat menyebabkan terjadinya ketergantungan teknologi dan kemampuan berpikir yang lemah, yang pada akhirnya akan menghambat perkembangan karir dan kontribusi mereka di masyarakat.
Menanamkan nalar pada mahasiswa melibatkan berbagai upaya yang terintegrasi dalam proses pembelajaran. Dosen perlu mengubah metode pengajaran dari ceramah yang satu arah menjadi pembelajaran yang interaktif, di mana mahasiswa diajak untuk berdiskusi, melakukan analisis kasus, dan menyelesaikan masalah secara mandiri. Dosen juga harus mengajarkan mahasiswa tentang cara mengevaluasi kredibilitas sumber informasi, membedakan fakta dengan opini, serta mengembangkan sikap kritis namun konstruktif terhadap berbagai isu.
Menyeimbangkan kedua tugas ini memang tidak mudah dan membutuhkan upaya yang berkelanjutan. Dosen harus mampu mengelola waktu dan sumber daya dengan baik, serta mengembangkan strategi penilaian yang tidak hanya mengukur hasil akhir tetapi juga proses berpikir mahasiswa. Misalnya, dengan menggunakan sistem penilaian berbasis proyek atau portofolio yang memungkinkan mahasiswa untuk menunjukkan kemampuan mereka dalam mengolah informasi dan menyelesaikan masalah secara mandiri.
Institusi pendidikan juga memiliki peran penting dalam mendukung dosen untuk menjalankan kedua tugas ini. Hal ini dapat dilakukan melalui pengembangan kurikulum yang lebih fokus pada pengembangan kemampuan berpikir, penyediaan pelatihan dan pendampingan bagi dosen, serta penyediaan fasilitas dan teknologi yang mendukung proses pembelajaran yang inovatif. Dengan demikian, dosen dapat menjalankan peran mereka dengan optimal dan menghasilkan lulusan yang tidak hanya memiliki nilai akademik baik, tetapi juga memiliki kemampuan berpikir yang kuat untuk menghadapi tantangan masa depan.
###
Penulis: Ailsa Widya Imamatuzzadah