Peran Guru Sebagai Navigator Informasi di Era Disrupsi
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Pada era disrupsi informasi yang sedemikian masif, peran guru telah mengalami pergeseran paradigma dari sekadar penyampai materi menjadi navigator informasi yang andal bagi siswa. Guru dituntut untuk memiliki ketajaman dalam memilah informasi yang kredibel di tengah membanjirnya data mentah yang sering kali tidak terverifikasi kebenarannya secara objektif. Kemampuan navigasi ini sangat penting untuk membimbing siswa agar tidak tersesat dalam belantara informasi yang dapat membingungkan nalar dan logika berpikir mereka. Pendidik harus mampu menunjukkan sumber-sumber rujukan yang otoritatif serta mengajarkan cara melakukan verifikasi silang terhadap setiap temuan informasi yang didapatkan oleh para siswa. Peran navigator ini menjadikan guru sebagai pelita yang menerangi jalan bagi pengembangan intelektual siswa sekolah dasar di tengah kompleksitas dunia digital saat ini.
Sebagai navigator, guru wajib membekali diri dengan literasi media yang mumpuni agar mampu mendampingi siswa dalam memahami konteks serta pesan tersembunyi di balik sebuah konten. Fenomena algoritma media sosial yang cenderung menciptakan ruang gema atau echo chamber harus dijelaskan kepada siswa agar mereka memiliki perspektif yang lebih luas. Guru harus mendorong siswa untuk tidak hanya terpaku pada satu sumber informasi, melainkan berani mengeksplorasi berbagai sudut pandang yang berbeda secara kritis. Pelatihan mengenai cara kerja mesin pencari serta penggunaan kata kunci yang tepat menjadi materi esensial dalam mendukung efektivitas pencarian informasi yang relevan dan edukatif. Kemampuan guru dalam menavigasi arus informasi akan sangat menentukan kualitas referensi yang digunakan oleh siswa dalam proses pembelajaran mandiri di sekolah.
Selain aspek teknis, guru juga berperan sebagai penjaga gawang etika yang memastikan informasi yang dikonsumsi dan dibagikan oleh siswa tetap selaras dengan norma. Guru perlu memberikan pemahaman mengenai hak cipta dan tata cara mengutip informasi dari internet secara benar guna menghargai karya orisinal para kreator konten. Diskusi mengenai dampak penyebaran informasi palsu bagi ketertiban masyarakat harus dilakukan secara intensif untuk menumbuhkan rasa tanggung jawab sosial pada diri siswa. Pendidik harus mampu menciptakan dialog yang interaktif di kelas, di mana siswa merasa nyaman untuk menanyakan kebenaran dari informasi yang mereka temukan di jagat maya. Peran ini menempatkan guru sebagai fasilitator yang menjembatani antara kemajuan teknologi dan nilai-nilai luhur kemanusiaan dalam proses pendidikan karakter siswa.
Transformasi guru menjadi navigator informasi memerlukan dukungan berupa pelatihan profesional yang berkelanjutan serta akses terhadap perangkat teknologi yang memadai di lingkungan sekolah masing-masing. Pemerintah dan lembaga terkait harus memfasilitasi peningkatan kompetensi guru dalam bidang literasi digital agar mereka tetap relevan dengan perkembangan zaman yang sangat cepat. Penyediaan basis data referensi pendidikan yang terverifikasi dapat menjadi alat bantu bagi guru dalam memberikan bimbingan informasi yang akurat kepada para peserta didik. Kolaborasi antarguru dalam berbagi strategi pengajaran literasi informasi juga perlu ditingkatkan melalui komunitas belajar profesional di tingkat daerah maupun nasional. Guru yang literat secara informasi akan menjadi inspirator bagi lahirnya generasi yang cerdas, bijak, dan tidak mudah terprovokasi oleh arus disrupsi informasi.
Sebagai simpulan, peran guru sebagai navigator informasi adalah pilar utama dalam membangun ketahanan intelektual bangsa di tengah gempuran era digital yang penuh tantangan. Kita harus memberikan apresiasi dan dukungan penuh kepada para pendidik yang telah berupaya keras menjadi pemandu yang bijak bagi putra-putri kita di dunia maya. Navigasi yang tepat akan membantu siswa menemukan pengetahuan yang bermanfaat bagi pertumbuhan bakat dan minat mereka secara optimal dan terarah dengan baik. Mari kita jadikan literasi informasi sebagai bagian tak terpisahkan dari pengabdian guru dalam mencetak manusia Indonesia yang berwawasan luas dan berintegritas tinggi. Dengan bimbingan guru yang kompeten, disrupsi informasi tidak akan menjadi ancaman, melainkan peluang emas bagi kemajuan peradaban pendidikan nasional di masa depan.
###
Penulis : Kartika Natasya Kusuma Supardi.