Peran Pascasarjana: Pendampingan Klinis dalam GNN 2026
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Keterlibatan civitas akademika tingkat lanjut menjadi ruh baru dalam Gerakan Numerasi Nasional (GNN) yang diluncurkan pemerintah pada awal tahun 2026 ini. Mahasiswa Magister PGSD dan Pendidikan Matematika dari berbagai universitas ternama kini diterjunkan langsung sebagai "Konsultan Mutu Klinis" di sekolah-sekolah dasar mitra. Langkah strategis ini diambil guna memastikan bahwa setiap kebijakan numerasi yang dirancang di tingkat pusat tidak terdistorsi saat diimplementasikan di ruang kelas. Sinergi antara teori mutakhir dari menara gading dan realitas praktis di lapangan diharapkan menjadi katalisator utama dalam upaya mendongkrak skor PISA Indonesia yang selama ini jalan di tempat.
Para mahasiswa pascasarjana ini bertugas melakukan observasi mendalam terhadap interaksi instruksional antara guru dan siswa di kelas. Mereka tidak datang sebagai pengawas yang menghakimi, melainkan sebagai mitra yang memberikan umpan balik berbasis data riset untuk memperbaiki cara guru menjelaskan konsep-konsep logika yang sulit. Pendekatan klinis ini memungkinkan guru untuk langsung memperbaiki praktik mengajar mereka melalui sesi refleksi yang dipandu oleh para peneliti muda tersebut. Analisis dari lapangan menunjukkan bahwa kehadiran pendamping ahli mampu meningkatkan kepercayaan diri guru dalam mengoperasikan alat peraga matematika yang selama ini hanya tersimpan di gudang sekolah.
Lebih jauh lagi, para mahasiswa S2 ini membantu sekolah dalam menyusun instrumen asesmen diagnostik yang lebih presisi untuk memetakan kemampuan nalar siswa secara individual. Data yang dikumpulkan tidak hanya berhenti pada angka nilai, tetapi diolah menjadi profil kekuatan dan kelemahan kognitif setiap anak. Dengan profil yang akurat, sekolah dapat memberikan intervensi yang sangat spesifik, sebuah praktik yang menjadi standar di negara-negara dengan skor PISA tinggi seperti Singapura dan Finlandia. Peran intelektual mahasiswa pascasarjana di sini adalah memastikan bahwa penjagaan mutu pendidikan dasar dilakukan dengan standar saintifik yang ketat.
Selain aspek kognitif, pendampingan ini juga menyentuh aspek manajemen sekolah dalam mendukung budaya numerasi. Mahasiswa pascasarjana memberikan rekomendasi kepada kepala sekolah mengenai bagaimana menciptakan lingkungan fisik yang kaya akan stimulus numerasi, seperti pembuatan "lorong logika" atau pemanfaatan data statistik sekolah sebagai bahan ajar. Sudut pandang ini memperluas makna numerasi dari sekadar mata pelajaran menjadi budaya sekolah yang inklusif. Transformasi lingkungan ini terbukti mampu memantik rasa ingin tahu siswa terhadap angka-angka yang mereka temui di sekitar mereka sehari-hari.
Fakta menarik lainnya adalah peran mahasiswa pascasarjana sebagai jembatan informasi antara sekolah dan orang tua. Mereka menyelenggarakan seminar kecil berbasis riset yang mengedukasi keluarga tentang cara-cara sederhana mendukung nalar anak di rumah tanpa harus menjadi ahli matematika. Komunikasi yang terjalin dengan landasan ilmiah ini membangun kepercayaan orang tua terhadap gerakan nasional yang sedang digalakkan pemerintah. Sinergi tiga arah antara kampus, sekolah, dan keluarga ini menciptakan ekosistem pendukung yang solid bagi peningkatan kualitas intelektual siswa secara berkelanjutan.
Kontribusi para peneliti muda ini juga menghasilkan luaran berupa data primer yang sangat berharga bagi pengembangan ilmu pendidikan dasar di tingkat universitas. Masalah-masalah autentik yang mereka temukan di lapangan kemudian dibawa kembali ke meja kuliah untuk didiskusikan dan dicarikan solusinya melalui riset tesis. Hal ini menciptakan siklus pengetahuan yang sehat, di mana kebijakan nasional diperkuat oleh riset lapangan, dan riset akademik mendapatkan relevansinya dari masalah nyata bangsa. GNN 2026 menjadi bukti bahwa mahasiswa pascasarjana bukan sekadar pengamat, melainkan aktor kunci dalam menjaga mutu pendidikan nasional.
Secara keseluruhan, keterlibatan aktif mahasiswa pascasarjana dalam GNN memberikan jaminan kualitas bahwa inovasi pendidikan di Indonesia tetap berada pada jalur yang benar secara akademis. Dedikasi mereka di sekolah dasar adalah bentuk nyata dari pengabdian intelektual yang berdampak langsung pada masa depan generasi bangsa. Dengan pengawalan yang ketat dan berbasis bukti dari kalangan akademisi, optimisme untuk melihat kenaikan skor PISA Indonesia bukan lagi sekadar impian, melainkan target yang sangat mungkin dicapai melalui kerja keras yang terukur dan profesional.
###
Penulis: Nur Santika Rokhmah