Peran Terjemahan dalam Meningkatkan Pembelajaran Multibahasa di Kelas
Terjemahan merupakan bagian
penting dalam pembelajaran bahasa, terutama ketika siswa mulai mengenal bahasa
kedua seperti Bahasa Inggris. Di tingkat sekolah dasar, aktivitas menerjemahkan
bukanlah upaya memaksa siswa menjadi penerjemah profesional, tetapi sebuah
strategi dasar untuk membantu mereka memahami hubungan antarbahasa, memperkaya
kosakata, dan mengembangkan kemampuan berpikir analitis. Proses terjemahan
melibatkan kegiatan membandingkan makna, melihat struktur kalimat, dan memahami
konteks, sehingga sangat cocok bagi siswa yang sedang berada pada tahap awal
mempelajari bahasa asing.
Dalam praktik pembelajaran, guru
dapat memulai dengan menggunakan teks sederhana seperti cerita anak, dialog
pendek, petunjuk harian, atau deskripsi benda. Siswa membaca teks dalam Bahasa
Inggris, kemudian mencoba menerjemahkannya ke dalam Bahasa Indonesia
menggunakan pilihan kata mereka sendiri. Aktivitas ini membantu siswa menyadari
bahwa terjemahan bukan sekadar memindahkan kata demi kata, tetapi memahami
keseluruhan makna. Misalnya, kalimat “It is raining cats and dogs” tentu tidak
bisa diterjemahkan secara literal; di sinilah guru membimbing siswa untuk
memahami makna idiomatik.
Selain memperkaya kosakata,
terjemahan juga mengajarkan siswa untuk memahami struktur kalimat. Ketika siswa
menemukan bahwa susunan kata dalam Bahasa Inggris berbeda dengan Bahasa
Indonesia, mereka mulai mengenali pola bahasa dan cara merangkai kalimat yang
baik. Kegiatan ini dapat mengembangkan keterampilan berpikir runtut, karena
siswa harus menentukan pilihan kata yang tepat dan menempatkannya dalam
struktur yang benar.
Terjemahan juga dapat menjadi
cara efektif mengaitkan pembelajaran bahasa dengan kehidupan sehari-hari. Guru
dapat mengajak siswa menerjemahkan label makanan, petunjuk di aplikasi
permainan, poster pendek, atau papan informasi sederhana. Kegiatan ini menunjukkan
kepada siswa bahwa bahasa asing tidak hanya ada di buku pelajaran, tetapi juga
hadir dalam dunia nyata yang mereka temui setiap hari. Ketika siswa menyadari
fungsi nyata bahasa Inggris, motivasi belajar mereka cenderung meningkat.
Meski demikian, tantangan muncul
ketika siswa terlalu bergantung pada alat terjemahan digital seperti Google
Translate. Di era digital, penggunaan aplikasi tersebut memang hampir tidak
dapat dihindari, tetapi guru perlu mengarahkan siswa agar tidak menerima hasil
terjemahan secara mentah. Aktivitas terjemahan di kelas sebaiknya melibatkan
diskusi, revisi, dan refleksi. Guru dapat meminta siswa membandingkan hasil
terjemahan manual dengan hasil dari Google Translate, lalu mendiskusikan
perbedaan makna atau struktur. Dengan cara ini, siswa belajar menjadi pengguna
bahasa yang lebih kritis dan tidak bergantung sepenuhnya pada teknologi.
Bagi sekolah dengan akses
teknologi yang terbatas, kegiatan terjemahan tetap dapat dilakukan secara
manual melalui membaca bersama, diskusi makna, dan latihan sederhana di buku
kerja. Pembelajaran bahasa tidak harus selalu berbasis aplikasi; interaksi antara
guru dan siswa tetap menjadi inti proses pembelajaran yang efektif.
Pada akhirnya, terjemahan adalah
jembatan yang membantu siswa memahami bahasa lain sekaligus memperkuat bahasa
ibu mereka. Jika dilakukan dengan pendekatan kreatif, terarah, dan kritis,
pembelajaran terjemahan dapat memperkaya literasi, membangun kesadaran bahasa,
dan menumbuhkan rasa percaya diri siswa dalam mempelajari bahasa asing sejak
dini.
Penulis: Windha Ana
Sevia