Persiapan Menghadapi Musim Berganti: Cuaca Tak Menentu dan Dampaknya terhadap Kesehatan Anak SD
Akhir-akhir ini, berbagai daerah di Indonesia mulai menunjukkan tanda-tanda pergantian musim dengan kondisi cuaca yang tidak menentu. Pagi hari terasa sejuk dan berawan, siang menjelang panas dengan suhu mencapai sekitar 30°C, sementara malam hari sering turun hujan ringan disertai angin lembap. Perubahan suhu yang cepat seperti ini menjadi tantangan bagi kesehatan anak-anak sekolah dasar. Tubuh anak yang masih dalam masa pertumbuhan lebih sensitif terhadap perubahan cuaca, sehingga mudah mengalami gangguan seperti flu, batuk, atau kelelahan.
Musim peralihan biasanya ditandai dengan fluktuasi kelembapan udara. Saat siang hari udara terasa kering, anak-anak dapat mengalami iritasi tenggorokan, bibir pecah-pecah, atau kulit kering. Namun, ketika malam tiba dan udara menjadi lembap, risiko infeksi saluran pernapasan meningkat. Anak-anak dengan riwayat alergi atau asma perlu mendapat perhatian lebih karena perubahan suhu dan kelembapan sering memicu kambuhnya gejala. Situasi ini menuntut perhatian dari orang tua dan guru agar anak tetap sehat di tengah cuaca yang berubah-ubah.
Kondisi lingkungan sekolah yang tidak terjaga kebersihannya juga dapat memperburuk dampak perubahan cuaca. Ruang kelas yang lembap setelah hujan bisa menjadi tempat berkembang biaknya jamur, bakteri, dan nyamuk. Oleh karena itu, sekolah sebaiknya memastikan ventilasi udara berjalan dengan baik serta membiarkan cahaya matahari masuk ke ruangan setiap pagi. Kegiatan kerja bakti rutin dan pengecekan kebersihan saluran air perlu dilakukan agar lingkungan tetap sehat dan aman bagi siswa.
Orang tua berperan penting dalam menjaga daya tahan tubuh anak selama masa peralihan musim. Asupan gizi seimbang yang kaya vitamin, terutama vitamin C dan zinc, dapat membantu memperkuat sistem imun. Anak perlu dibiasakan minum air putih secara teratur agar tidak dehidrasi, terutama ketika suhu meningkat di siang hari. Penggunaan pakaian yang sesuai dengan kondisi cuaca — seperti jaket ringan di pagi hari atau pakaian berbahan adem saat siang — juga membantu tubuh anak beradaptasi dengan lebih baik.
Guru di sekolah dapat mengambil langkah preventif dengan menyesuaikan kegiatan belajar berdasarkan kondisi cuaca. Saat suhu terlalu panas, kegiatan di luar ruangan bisa diganti dengan aktivitas di dalam kelas. Sementara pada hari-hari lembap atau hujan, guru perlu memastikan anak tidak bermain di luar ruangan tanpa perlindungan. Koordinasi antara guru, petugas UKS, dan orang tua sangat penting agar anak tetap terlindungi dari risiko penyakit yang sering muncul di masa pergantian musim.
Sebagai kesimpulan, cuaca yang tidak menentu saat pergantian musim menuntut kewaspadaan dari semua pihak. Menjaga kebersihan lingkungan, memperhatikan pola makan dan istirahat anak, serta menyesuaikan aktivitas belajar dengan kondisi cuaca dapat membantu mencegah gangguan kesehatan. Dengan kerja sama antara sekolah dan keluarga, anak-anak sekolah dasar dapat tetap sehat, aktif, dan semangat belajar meskipun kondisi cuaca terus berubah.