Persiapan Pentas Seni: Panitia Siswa Cari Referensi Tari Tradisional dan Modern di YouTube
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Pentas Seni (Pensi) tahunan merupakan ajang unjuk bakat yang paling dinanti oleh seluruh siswa sekolah dasar. Namun, seringkali kelompok penari siswa mengalami kebuntuan dalam menciptakan koreografi yang baru dan unik. Untuk memantik inspirasi, panitia siswa kelas 5 dan 6 bersama guru pembimbing seni budaya memanfaatkan platform YouTube sebagai perpustakaan referensi gerak. Mereka menonton berbagai video pertunjukan tari dari berbagai daerah di Indonesia serta video tari kreasi modern untuk menemukan perpaduan gerakan yang dinamis dan sesuai untuk usia mereka.
Melalui YouTube, siswa dapat mempelajari detail gerakan tangan, langkah kaki, hingga ekspresi wajah dari para penari profesional. Guru mengajarkan siswa cara menggunakan fitur "kecepatan putar" (playback speed) pada video untuk memperlambat gerakan yang sulit agar bisa dipelajari tahap demi tahap. Hal ini sangat membantu siswa dalam menghafal pola lantai yang rumit tanpa harus mendatangkan pelatih tari dari luar yang mahal. Siswa merasa memiliki mentor virtual yang tersedia 24 jam untuk membimbing mereka berlatih secara mandiri di aula sekolah.
Selain gerakan, YouTube juga menjadi sumber inspirasi bagi tim kostum dan tata rias. Siswa mencari video tutorial cara memakai kain jarik yang praktis atau cara merias wajah untuk panggung agar terlihat cerah namun tetap natural bagi anak-anak. Diskusi kelompok menjadi sangat hidup karena setiap siswa memiliki referensi video yang berbeda untuk diusulkan. Kolaborasi antara teknologi digital dan kreativitas seni ini membuat proses persiapan Pensi menjadi ajang belajar organisasi yang menyenangkan bagi siswa kelas atas.
Guru pembimbing juga memanfaatkan YouTube untuk menunjukkan video tentang "etika panggung" dan bagaimana cara mengatasi rasa gugup sebelum tampil. Siswa menonton cuplikan di mana penari tetap tersenyum meski melakukan kesalahan kecil, yang memberikan pelajaran berharga tentang profesionalisme dan mental juara. Dengan melihat berbagai referensi positif di YouTube, siswa belajar bahwa seni adalah tentang berekspresi dan bersenang-senang, bukan sekadar persaingan untuk menjadi yang terbaik.
Keberhasilan penampilan siswa di hari H menjadi bukti bahwa YouTube dapat menjadi asisten pendidikan seni yang luar biasa jika diarahkan dengan benar. Kostum yang serasi, musik yang pas, dan koreografi yang rapi merupakan hasil dari proses kurasi informasi digital yang dilakukan siswa. Sekolah dasar ini membuktikan bahwa dengan bimbingan guru, teknologi video bukan hanya menjadi tontonan pasif, melainkan menjadi alat produksi karya seni yang membanggakan bagi seluruh warga sekolah.
###
Penulis: Maulidia Evi Aprilia