Proxy Sekolah Sebagai Filter Etika Digital untuk Membentuk Karakter Bertanggung Jawab di SD
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Di era digital saat
ini, anak-anak sekolah dasar semakin akrab dengan internet sebagai sumber
belajar dan hiburan. Namun, akses yang tidak terkontrol dapat membuka peluang
bagi mereka untuk menemukan konten yang tidak sesuai usia. Oleh karena itu,
penggunaan proxy sekolah menjadi langkah penting dalam menjaga keamanan digital
siswa. Proxy berfungsi sebagai perantara antara pengguna dan internet, yang
mampu memfilter situs berbahaya atau tidak pantas. Dengan sistem ini, sekolah
dapat menciptakan lingkungan digital yang lebih aman sekaligus mendidik anak
untuk menggunakan teknologi secara bijak.
Selain berfungsi sebagai pelindung,
proxy sekolah juga berperan dalam menanamkan etika digital sejak dini. Ketika
siswa belajar bahwa tidak semua situs bisa diakses bebas, mereka mulai memahami
batasan dan aturan dalam dunia maya. Guru dapat memanfaatkan momen ini untuk
berdiskusi tentang tanggung jawab dalam menggunakan internet, seperti
menghormati privasi orang lain, tidak menyebarkan informasi palsu, dan
menghindari perilaku negatif di media sosial. Dengan begitu, teknologi tidak
hanya menjadi alat belajar, tetapi juga sarana membentuk karakter positif.
Proxy sekolah juga mendukung upaya
guru dalam mengawasi aktivitas daring siswa tanpa mengganggu privasi mereka
secara berlebihan. Melalui pengaturan yang tepat, guru bisa mengetahui pola
pencarian siswa dan memberikan bimbingan ketika diperlukan. Pendekatan ini
menumbuhkan kesadaran tanggung jawab digital, di mana siswa belajar mengontrol
diri dan memahami konsekuensi dari setiap tindakan di dunia maya. Proses ini
menjadi bagian dari pendidikan karakter yang relevan dengan perkembangan zaman.
Lebih jauh lagi, penerapan proxy
sekolah dapat dikaitkan dengan kurikulum pembelajaran berbasis proyek.
Misalnya, siswa dapat diajak membuat proyek bertema “Internet Sehat dan Aman”
dengan menelusuri informasi yang sudah difilter oleh sistem proxy. Kegiatan ini
tidak hanya melatih keterampilan berpikir kritis dan literasi digital, tetapi
juga memperkuat nilai kejujuran dan tanggung jawab. Mereka belajar bahwa akses
internet bukan sekadar kebebasan, tetapi juga amanah yang harus dijaga.
Dengan demikian, proxy sekolah bukan
hanya sekadar alat pengaman teknis, melainkan bagian dari strategi pendidikan
karakter di era digital. Melalui penerapan yang konsisten dan disertai
bimbingan guru, siswa SD dapat tumbuh menjadi pengguna teknologi yang bijak,
sopan, dan bertanggung jawab. Ke depan, sekolah yang mampu memanfaatkan
teknologi secara etis akan melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas secara
akademik, tetapi juga matang dalam berpikir dan berperilaku di dunia digital.
###
Penulis: Sabila Widyawati
Dokumentasi: Pinterest