Proyek Kolaboratif SD: Dari Cuaca Lokal ke Aksi Global SDGs
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya —Siswa sekolah dasar kini diajak mengikuti proyek kolaboratif yang menghubungkan cuaca lokal dengan isu global. Guru meminta siswa mengamati cuaca harian selama beberapa minggu dan membandingkannya dengan data cuaca dari daerah lain. Data tersebut menjadi dasar diskusi tentang dampak perubahan iklim di berbagai wilayah di Indonesia. Kegiatan ini mendorong siswa memahami bahwa perubahan cuaca tidak terjadi secara terisolasi. Pendekatan ini sangat sejalan dengan SDGs 13 mengenai aksi iklim. Siswa mulai belajar memiliki pandangan global.
Dalam proyek ini, siswa bekerja dalam kelompok kecil untuk menganalisis data cuaca. Mereka membuat grafik, tabel, dan infografis untuk menampilkan temuan mereka. Guru melatih siswa menjelaskan korelasi antara suhu, intensitas hujan, dan awan. Pembelajaran berbasis data ini membantu anak mengembangkan kemampuan literasi numerasi. Selain itu, proyek ini mengasah kemampuan komunikasi kolaboratif. Siswa didorong untuk menyampaikan pendapat dengan sopan dan jelas.
Guru memperkenalkan konsep perubahan iklim melalui contoh sehari-hari yang dekat dengan anak. Misalnya, mengapa hujan sekarang lebih sering tiba-tiba atau mengapa siang terasa jauh lebih panas. Melalui diskusi santai, siswa diajak memahami bahwa perubahan kecil di cuaca dapat memberi dampak besar pada masyarakat. Pendekatan ini membuat materi kompleks menjadi lebih mudah dicerna. Guru juga menanamkan nilai empati terhadap daerah yang sering terdampak cuaca ekstrem. Dengan demikian, pembelajaran menjadi lebih bermakna dan membentuk karakter peduli.
Di tengah proyek, siswa mengembangkan ide aksi kecil terkait iklim. Ada yang membuat kampanye hemat energi, poster “jaga pohon sekolah”, hingga video pendek ajakan menjaga bumi. Guru mendorong siswa mempresentasikan solusi sederhana yang dapat dilakukan anak-anak. Kegiatan ini menumbuhkan kreativitas dan rasa kepemilikan terhadap proyek. Siswa belajar bahwa aksi kecil dapat memberikan kontribusi bagi tujuan global. Sekolah menjadi ruang tumbuhnya kesadaran ekologis sejak dini.
Proyek kolaboratif ini tidak hanya memperkuat pemahaman cuaca, tetapi juga membangun literasi global. Guru berharap siswa dapat meneruskan gaya berpikir kritis dan peduli lingkungan ke kehidupan sehari-hari. Kegiatan ini menjadi pondasi bagi generasi masa depan yang lebih melek iklim. Sekolah dasar membuktikan bahwa pendidikan berbasis proyek mampu mendukung SDGs secara nyata. Melalui kegiatan sederhana dan dekat dengan kehidupan anak, pembelajaran menjadi jauh lebih relevan. Siswa pun bangga menjadi bagian dari upaya menjaga bumi.
###
Penulis: Putri Arina Hidayati
Dokumentasi: Google_Kr Jogja