Redefinisi Keterlibatan Orang Tua dalam Ekosistem Literasi Dini di Era Digital
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya - Fenomena digitalisasi pendidikan saat ini menuntut sebuah pergeseran paradigma mengenai peran orang tua dalam mendampingi anak di jenjang sekolah dasar secara fundamental. Kehadiran teknologi informasi tidak hanya menyediakan kemudahan akses data, tetapi juga membawa tantangan baru bagi pembentukan kemampuan literasi dini yang bersifat esensial. Redefinisi keterlibatan orang tua menjadi sangat kurasial agar teknologi berfungsi sebagai akselerator kognitif, bukan justru menjadi distraksi yang menghambat fokus anak. Orang tua tidak lagi cukup hanya berperan sebagai penyedia fasilitas perangkat keras, melainkan harus bertindak sebagai kurator konten yang cerdas bagi buah hati mereka. Oleh karena itu, sinergi antara literasi digital dan literasi konvensional harus dibangun sejak dini di lingkungan keluarga agar tidak terjadi ketimpangan pemahaman. Melalui pemahaman yang komprehensif, ekosistem belajar di rumah akan bertransformasi menjadi laboratorium intelektual yang sehat, dinamis, dan produktif bagi pertumbuhan mental siswa.
Keterlibatan aktif orang tua dalam ekosistem ini mencakup pengawasan yang terukur serta bimbingan yang bersifat dialogis terhadap setiap informasi yang dikonsumsi anak. Proses literasi tidak boleh dianggap sebagai tanggung jawab sekolah semata, melainkan sebuah kontinuitas yang bermula dari interaksi intim di ruang tamu rumah. Orang tua diharapkan mampu menciptakan suasana yang merangsang rasa ingin tahu anak melalui diskusi mendalam mengenai berbagai fenomena yang mereka temui di gawai. Penggunaan perangkat digital harus diimbangi dengan interaksi sosial yang nyata guna menjaga keseimbangan perkembangan emosional dan empati siswa. Tanpa adanya kontrol yang berbasis pada pemahaman pedagogis yang kuat, anak-anak berisiko kehilangan kemampuan fokus yang mendalam pada teks-teks panjang yang membutuhkan daya analisis. Dengan demikian, redefinisi peran ini menjadi fondasi utama dalam mencetak generasi yang tidak hanya mahir teknologi, tetapi juga literat secara substantif di tengah arus informasi masif.
Lebih jauh lagi, optimalisasi peran orang tua dalam mendukung literasi dini di era digital memerlukan literasi media yang mumpuni dari sisi orang dewasa itu sendiri. Orang tua harus mampu membedakan antara informasi yang bersifat edukatif dan informasi yang berpotensi memberikan dampak negatif terhadap perkembangan psikologis anak. Keteladanan dalam menggunakan gawai secara bijak di depan anak menjadi kunci utama dalam membentuk karakter pembelajar sepanjang hayat yang disiplin. Ketika anak melihat orang tua mereka membaca buku atau menggunakan teknologi untuk hal produktif, mereka akan cenderung meniru perilaku positif tersebut secara organik. Lingkungan rumah yang kaya akan bahan bacaan, baik digital maupun fisik, akan merangsang saraf-saraf linguistik anak untuk berkembang lebih pesat dibandingkan lingkungan yang pasif. Kolaborasi antara hati, pikiran, dan teknologi di bawah pengawasan orang tua akan menciptakan benteng pertahanan intelektual yang kokoh bagi masa depan anak.
Tantangan yang muncul dalam proses redefinisi ini sering kali berkaitan dengan manajemen waktu dan tingkat pemahaman orang tua terhadap kurikulum pendidikan dasar yang dinamis. Diperlukan upaya sadar dari setiap orang tua untuk menyisihkan waktu berkualitas guna mendampingi proses eksplorasi literasi anak setiap harinya. Pendampingan tersebut bukan berarti mendikte cara berpikir anak, melainkan memberikan ruang bagi mereka untuk berpendapat dan mempertanyakan apa yang mereka baca. Orang tua berperan sebagai jembatan yang menghubungkan teori yang didapat di sekolah dengan realitas praktik yang ditemui dalam kehidupan sehari-hari secara kontekstual. Jika peran ini dijalankan dengan penuh dedikasi, maka hambatan-hambatan dalam pembelajaran literasi dini dapat diminimalisasi melalui solusi-solusi kreatif yang berbasis keluarga. Keberhasilan seorang anak dalam menguasai kemampuan literasi lanjut di masa depan sangat bergantung pada seberapa efektif redefinisi peran ini diimplementasikan hari ini.
Sebagai simpulan, penguatan ekosistem literasi di rumah melalui redefinisi peran orang tua merupakan investasi strategis yang tidak dapat diabaikan oleh pemangku kepentingan manapun. Kesadaran kolektif akan pentingnya pendampingan belajar di rumah harus terus dipupuk melalui program-program psikoedukasi yang menyasar langsung pada unit keluarga terkecil. Sinergi yang kuat antara institusi pendidikan, pemerintah, dan orang tua akan menciptakan jaring pengaman bagi perkembangan literasi nasional secara keseluruhan. Di era digital yang serba cepat, kedalaman berpikir dan ketajaman analisis teks menjadi kompetensi langka yang harus dijaga melalui pendidikan karakter di rumah. Orang tua yang literat akan melahirkan anak yang literat, dan anak yang literat akan membangun peradaban bangsa yang jauh lebih unggul dan bermartabat. Oleh karena itu, mari kita jadikan setiap sudut rumah sebagai ruang belajar yang inspiratif demi menyongsong generasi emas yang cerdas secara kognitif maupun spiritual.
Penulis : Kartika Natasya Kusuma Supardi.