Reinkarnasi Sekolah Rakyat: Menjawab Krisis Relevansi Pendidikan Dasar
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Di tengah arus digitalisasi yang kian kencang, banyak pihak mulai mempertanyakan apakah kurikulum SD saat ini benar-benar menyiapkan siswa untuk masa depan atau sekadar mengejar ketuntasan administratif. Fenomena munculnya kembali konsep "Sekolah Rakyat" dengan model baru di awal tahun 2025 menjadi jawaban atas krisis relevansi pendidikan dasar di Indonesia. Berlokasi di beberapa zona percontohan Jawa Timur, model ini mengintegrasikan penguasaan literasi dasar dengan pengembangan keterampilan praktis (applied skills) sejak kelas satu, bertujuan menciptakan lulusan yang tidak hanya cerdas secara kognitif tetapi juga tangkas secara motorik dan berjiwa mandiri.
Secara teoritis, model Sekolah Rakyat baru ini didasarkan pada kritik atas "pendidikan bank" yang pernah diutarakan Paulo Freire, di mana siswa hanya menjadi wadah penyimpanan informasi tanpa daya kritis. Dengan memfokuskan pada keterampilan sejak dini, otak anak di jenjang SD didorong untuk mengembangkan fungsi eksekutif melalui aktivitas yang konkret dan bermakna. Data psikologi perkembangan menunjukkan bahwa anak usia 7-12 tahun berada pada fase operasional konkret, di mana mereka belajar paling efektif melalui praktik langsung dibandingkan teori abstrak yang membosankan.
Analisis mendalam terhadap kurikulum ini menunjukkan pergeseran paradigma dari content-based learning menuju competency-based learning. Di Sekolah Rakyat ini, pelajaran matematika tidak lagi sekadar menghitung di atas kertas, melainkan diterapkan dalam keterampilan dasar pertukangan atau pengukuran skala dalam berkebun. Pembiasaan positif ini membangun keamanan psikologis karena siswa merasa apa yang mereka pelajari memiliki guna nyata dalam kehidupan sehari-hari, mengurangi tingkat stres akademik yang selama ini menghantui siswa sekolah dasar konvensional.
Peran guru dalam ekosistem Sekolah Rakyat bergeser menjadi fasilitator sekaligus mentor teknis yang harus menguasai beragam keterampilan praktis. Guru tidak lagi berdiri kaku di depan kelas, melainkan mendampingi siswa di laboratorium alam, bengkel kreatif, atau sanggar seni. Keteladanan guru dalam bekerja dengan tangan dan menunjukkan ketekunan dalam menyelesaikan sebuah proyek menjadi kurikulum tersembunyi yang sangat ampuh. Hal ini menciptakan sinkronisasi antara pengetahuan teoritis dan praktik lapangan, yang menjadi fondasi karakter generas tangguh.
Inovasi dalam model ini juga melibatkan teknologi sebagai alat pendukung keterampilan, bukan sekadar perangkat hiburan. Siswa diperkenalkan dengan dasar-dasar pemrograman atau desain grafis sederhana sebagai bagian dari keterampilan digital wajib. Sistem penilaian menggunakan portofolio karya, di mana setiap siswa memiliki catatan progres keterampilan yang transparan dan dapat dipantau oleh orang tua melalui aplikasi khusus. Pergeseran dari ujian berbasis angka menjadi penilaian berbasis karya ini terbukti meningkatkan motivasi intrinsik siswa untuk terus berinovasi dan berkarya.
Sinergi dengan masyarakat sekitar menjadi kekuatan utama Sekolah Rakyat, di mana perajin, petani, atau teknisi lokal diundang sebagai guru tamu untuk berbagi keahlian. Hal ini menciptakan hubungan yang erat antara sekolah dan lingkungan sosialnya, menjadikan sekolah sebagai pusat belajar komunitas yang inklusif. Siswa belajar menghargai profesi di sekitar mereka, sekaligus mendapatkan wawasan tentang keberlanjutan ekonomi lokal sejak usia dini. Kolaborasi ini memastikan bahwa pendidikan tidak melepaskan anak dari akar budayanya, melainkan justru memperkuat identitas mereka.
Sebagai penutup, model Sekolah Rakyat baru dengan fokus keterampilan adalah kunci utama untuk merombak wajah pendidikan dasar Indonesia menjadi lebih adaptif dan manusiawi. Kita harus menyadari bahwa menyiapkan generasi emas tidak cukup hanya dengan buku teks, melainkan dengan membekali mereka alat untuk berkarya dan memecahkan masalah. Sekolah dasar harus menjadi ruang persemaian bakat yang nyata, di mana keterampilan dipandang setara dengan pengetahuan intelektual. Mari kita dukung transformasi ini demi melahirkan lulusan SD yang berkarakter, mandiri, dan siap menghadapi tantangan zaman.
###
Penulis: Nur Santika Rokhmah