Rekonstruksi Karakter Tekun di Tengah Kepungan Budaya Serba Cepat pada Pendidikan Dasar
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya —Rekonstruksi karakter tekun pada siswa sekolah dasar menjadi sangat mendesak dilakukan untuk menghadapi kepungan budaya serba cepat yang mendominasi kehidupan sehari-hari. Budaya instan telah menciptakan pola pikir bahwa segala sesuatu harus terjadi dalam hitungan detik, yang secara tidak langsung merusak pemahaman anak tentang arti kerja keras. Siswa cenderung menginginkan jawaban instan dari guru atau internet tanpa mau berusaha melewati tahap-tahap pemikiran yang mendalam terlebih dahulu. Fenomena ini menyebabkan merosotnya kualitas perhatian siswa di kelas karena mereka terbiasa dengan rangsangan visual yang cepat dan berubah-ubah. Pendidikan dasar harus berani melakukan perubahan paradigma untuk mengembalikan marwah ketekunan sebagai nilai tertinggi dalam pencapaian akademis dan moral. Rekonstruksi ini melibatkan perubahan strategi pengajaran, cara penilaian, hingga cara berkomunikasi guru dengan siswa mengenai makna sebuah keberhasilan.
Konsep Grit dari Angela Duckworth memberikan landasan teoretis yang kuat dalam upaya merekonstruksi karakter tekun di sekolah dasar melalui pembiasaan yang disiplin. Kegigihan atau Grit diajarkan melalui pemberian tugas yang menantang namun dapat dicapai, di mana siswa didorong untuk mencoba berkali-kali hingga berhasil. Guru harus mampu mengubah perspektif siswa bahwa kegagalan bukanlah akhir, melainkan bagian dari proses belajar yang normal dan harus dilalui. Dengan fokus pada perkembangan bertahap, siswa akan belajar menghargai setiap kemajuan kecil yang mereka buat melalui usaha mereka sendiri. Karakter tekun yang terbentuk dari latihan Grit ini akan menjadi modal dasar bagi siswa untuk menghadapi kurikulum yang semakin kompleks di jenjang pendidikan selanjutnya. Ketekunan bukan lagi sekadar ketaatan pada aturan, melainkan api semangat dari dalam diri untuk menuntaskan tanggung jawab hingga selesai.
Selain itu, pendekatan penundaan kepuasan (delayed gratification) perlu diterapkan dalam sistem penghargaan di sekolah untuk melatih kesabaran siswa. Penghargaan tidak seharusnya diberikan setiap saat untuk hal-hal sepele, melainkan diberikan setelah siswa menunjukkan konsistensi dalam jangka waktu tertentu. Hal ini melatih kontrol diri anak agar mampu mengelola keinginan mereka terhadap kesenangan sesaat demi mencapai hasil belajar yang lebih substansial. Di era media sosial yang penuh dengan validasi instan, sekolah harus menjadi penyeimbang yang mengajarkan bahwa kepuasan yang bermakna memerlukan pengorbanan waktu dan tenaga. Melalui latihan menunda kepuasan, siswa akan memiliki ketahanan mental yang lebih baik ketika harus menghadapi materi pelajaran yang membosankan namun penting. Kemampuan untuk tetap fokus pada tujuan jangka panjang adalah kunci utama dalam membangun karakter tekun yang kokoh di tengah hiruk-pikuk dunia digital.
Profil Pelajar Pancasila memberikan arah bagi rekonstruksi ini melalui dimensi gotong royong dan kreatif dalam menyelesaikan masalah-masalah yang sulit. Karakter tekun diwujudkan dalam kemauan siswa untuk bekerja sama melewati proses yang panjang demi mencapai tujuan bersama dalam proyek kelas. Kreativitas juga menuntut ketekunan karena sebuah inovasi jarang sekali ditemukan dalam percobaan pertama tanpa adanya uji coba yang berulang. Guru dapat menggunakan metode diskusi yang mendalam untuk melatih siswa agar tidak terburu-buru dalam mengambil kesimpulan terhadap suatu fenomena. Dengan menanamkan nilai Pancasila, ketekunan siswa akan berlandaskan pada semangat pengabdian dan integritas sebagai warga negara yang baik. Rekonstruksi karakter ini akan melahirkan generasi yang menghargai proses sebagai bentuk penghormatan terhadap ilmu pengetahuan dan nilai-nilai kemanusiaan.
Sebagai penutup, merekonstruksi karakter tekun adalah bentuk perlindungan bagi masa depan intelektual siswa di era yang serba instan ini. Kita harus menolak anggapan bahwa ketekunan adalah sifat kuno yang tidak lagi relevan dengan kemajuan teknologi digital yang serba cepat. Justru di tengah kemudahan itulah, ketekunan menjadi pembeda antara mereka yang hanya menjadi pengguna pasif dan mereka yang menjadi pencipta solusi. Mari kita jadikan sekolah dasar sebagai kawah candradimuka bagi tumbuhnya generasi yang gigih, sabar, dan memiliki daya juang yang tinggi. Setiap upaya guru untuk mengajak siswa bertahan sedikit lebih lama dalam belajar adalah langkah besar bagi penyelamatan karakter bangsa. Masa depan yang cerah hanya milik mereka yang memiliki ketekunan untuk terus belajar dan beradaptasi tanpa harus bergantung pada hasil yang instan.
###
Penulis : Indriani Dwi Febrianti