Reporter Sains Cilik: Membuat Video Dokumenter Alam dengan YouTube dan Canva
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Menggabungkan keterampilan observasi alamiah dengan literasi media digital tingkat lanjut adalah cara yang sangat efektif untuk mendukung SDG 15 (Ekosistem Daratan) sekaligus SDG 4 (Pendidikan Berkualitas). Dalam proyek ini, siswa SD diajak berperan aktif sebagai "reporter sains" yang bertugas mendokumentasikan keanekaragaman hayati yang ada di halaman sekolah atau taman rumah mereka. Mereka merekam video temuan menarik—seperti perilaku koloni semut, proses mekarnya bunga, atau jenis serangga liar—kemudian mengedit dan mempublikasikannya di kanal YouTube sekolah dengan sampul video (thumbnail) yang didesain secara menarik dan profesional menggunakan aplikasi Canva.
Proses produksi video dimulai dengan riset lapangan yang teliti layaknya ilmuwan muda. Setelah mendapatkan rekaman video yang bagus, siswa belajar menyusun narasi ilmiah yang sederhana namun akurat untuk menjelaskan apa yang mereka rekam. Video hasil suntingan tersebut kemudian diunggah ke YouTube sebagai repositori pengetahuan siswa yang bisa diakses publik. Agar video tersebut menarik minat penonton untuk mengklik, siswa menggunakan Canva untuk merancang thumbnail yang eye-catching, memadukan judul yang provokatif, warna kontras, dan elemen grafis yang relevan. Keterampilan ini menggabungkan seni visual, pengetahuan sains, dan teknologi informasi dalam satu kegiatan.
Melalui platform YouTube, siswa belajar tentang konsep audiens global dan pentingnya jejak digital positif. Mereka menyadari bahwa karya video mereka dapat ditonton oleh siapa saja di seluruh dunia, sehingga mereka harus bertanggung jawab penuh atas kebenaran informasi sains yang disampaikan. Guru membimbing siswa untuk merespons komentar yang masuk di YouTube dengan santun dan bijak, melatih etika komunikasi digital dan interaksi sosial di ruang maya.
Integrasi penggunaan Canva dalam proyek ini mengajarkan pentingnya pengemasan informasi. Siswa belajar prinsip bahwa konten yang baik (video sains yang informatif) perlu didukung oleh kemasan yang baik pula (desain grafis yang menarik) agar pesan pelestarian alam dapat tersampaikan secara efektif kepada audiens yang lebih luas. Mereka bereksperimen dengan psikologi warna dan tipografi untuk menciptakan identitas visual yang unik bagi saluran reporter cilik mereka, mengasah kreativitas artistik mereka.
Proyek kolaboratif multimedia ini mentransformasi siswa dari yang awalnya hanya konsumen konten pasif menjadi kreator konten edukatif yang produktif. Dengan memanfaatkan kekuatan YouTube dan Canva, sekolah dasar berhasil menciptakan ekosistem belajar yang modern dan relevan, di mana sains dirayakan dengan antusiasme dan kreativitas digital diasah demi menyuarakan pesan cinta pada alam semesta.
###
Penulis: Maulidia Evi Aprilia