Resolusi Pendidikan 2026: Mengapa Literasi dan Numerasi SD Harus Menjadi Prioritas Nasional?
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Memasuki gerbang tahun baru 2026, dunia pendidikan Indonesia menghadapi momentum krusial untuk melakukan refleksi total terhadap capaian kompetensi dasar siswa di seluruh pelosok negeri. Di tengah euforia perayaan tahun baru, para pemangku kebijakan pendidikan menegaskan bahwa penguatan literasi dan numerasi sejak bangku Sekolah Dasar (SD) bukan lagi sekadar pilihan, melainkan mandat darurat untuk menyelamatkan masa depan generasi bangsa. Langkah ini diambil menyusul rilis data evaluasi akhir tahun yang menunjukkan bahwa meski akses pendidikan meningkat, kedalaman pemahaman kognitif siswa pada aspek logika dasar masih memerlukan intervensi serius agar Indonesia tidak tertinggal dalam persaingan ekonomi pengetahuan global yang kian kompetitif.
Secara teknis, literasi dan numerasi adalah "paspor" intelektual yang memungkinkan anak-anak untuk mengakses disiplin ilmu lainnya secara mandiri, kritis, dan bertanggung jawab. Tahun baru ini harus menjadi titik balik untuk meninggalkan pola pengajaran hafalan yang usang dan beralih ke pengembangan nalar yang lebih substansial serta kontekstual di tingkat dasar. Analisis dari berbagai studi pedagogi menunjukkan bahwa kegagalan dalam menguasai literasi baca-tulis dan logika angka di usia SD akan menciptakan hambatan belajar yang bersifat permanen hingga jenjang universitas. Oleh karena itu, resolusi pendidikan tahun ini wajib difokuskan pada pembenahan kurikulum SD yang lebih ramping materi namun kaya akan stimulasi kognitif untuk membangun fondasi nalar yang kokoh.
Tantangan nyata yang dihadapi adalah bagaimana meratakan kualitas literasi ini di tengah disparitas sarana prasarana yang masih mencolok antara wilayah urban dan rural di Indonesia. Tahun baru diharapkan membawa semangat pemerataan melalui digitalisasi literasi yang bijak, di mana teknologi digunakan sebagai jembatan interaksi, bukan sekadar pengganti peran guru di dalam kelas. Guru SD dituntut untuk memiliki kreativitas tinggi dalam menyajikan materi numerasi yang sering kali dianggap menakutkan menjadi sebuah petualangan logika yang menyenangkan dan aplikatif. Jika semangat baru ini dapat diinternalisasi oleh setiap pendidik, maka krisis literasi yang telah lama menghantui Indonesia dapat perlahan terurai mulai dari unit pendidikan terkecil.
Sektor swasta dan komunitas literasi juga diharapkan mengambil peran lebih besar dalam mendukung ekosistem belajar yang literat di luar jam sekolah formal melalui program kemitraan yang berkelanjutan. Gerakan "Satu Buku di Awal Tahun" bagi setiap siswa SD dapat menjadi simbol komitmen kolektif untuk meningkatkan indeks membaca nasional secara signifikan dan konsisten. Perubahan besar selalu dimulai dari langkah-langkah kecil yang dilakukan secara terus-menerus, dan penguatan kompetensi dasar di tingkat SD adalah investasi dengan tingkat pengembalian tertinggi bagi ketahanan nasional. Kita tidak boleh membiarkan pergantian tahun hanya menjadi seremoni angka kalender tanpa adanya peningkatan nyata pada kualitas intelektual anak-anak kita.
Sektor pendidikan harus menyadari bahwa literasi bukan sekadar mengeja huruf, melainkan kemampuan mengevaluasi teks dan mengenali bias informasi yang beredar di era digital. Membangun budaya literasi di SD berarti melatih siswa untuk bertanya "mengapa" dan "bagaimana" terhadap setiap informasi yang mereka terima, sebuah keterampilan yang sangat dibutuhkan di tengah banjir informasi saat ini. Tahun 2026 harus menjadi panggung bagi kedaulatan berpikir siswa Indonesia yang dimulai dari fondasi literasi dan numerasi yang mumpuni. Tanpa penguatan di tingkat dasar, segala inovasi di tingkat pendidikan tinggi hanya akan menjadi bangunan indah di atas pasir yang mudah runtuh.
Sebagai penutup, tahun baru ini harus menjadi saksi atas sinergi yang jujur antara pemerintah, sekolah, dan orang tua untuk mengawal transisi menuju pendidikan yang lebih berkualitas dan bermartabat. Mutu pendidikan kita di masa depan sangat bergantung pada seberapa serius kita menangani masalah literasi dasar pada hari ini, bukan esok atau lusa. Mari kita jadikan tahun ini sebagai tahun kebangkitan nalar nasional, di mana setiap anak lulus SD dengan kemampuan berpikir kritis dan kecintaan pada ilmu pengetahuan yang tidak tergoyahkan. Semangat baru ini adalah janji kita pada generasi masa depan untuk Indonesia yang lebih cerdas dan berdaya saing global.
###
Penulis: Nur Santika Rokhmah