REVOLUSI KETERAMPILAN KERJA: INTEGRASI CANVA DAN CHATGPT DALAM KURIKULUM VOKASI UNTUK SDGS 8
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Menghadapi
tantangan SDGs poin ke-8 mengenai pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi,
sekolah menengah kejuruan (SMK) di Indonesia mulai merombak kurikulum mereka
dengan mengintegrasikan alat kecerdasan buatan seperti ChatGPT dan platform
desain Canva. Siswa kini tidak hanya diajarkan teori, tetapi juga praktik
langsung bagaimana menggunakan AI untuk melakukan riset pasar dan menyusun
rencana bisnis yang matang secara otomatis. Kemampuan untuk merumuskan perintah
(prompt) yang tepat kepada AI menjadi kompetensi baru yang sangat dihargai,
karena memungkinkan siswa untuk bekerja lebih cepat dan akurat dalam
menyelesaikan proyek teknis. Hal ini diharapkan dapat memperpendek jarak antara
kompetensi lulusan sekolah dengan kebutuhan industri kreatif yang sangat
dinamis dan kompetitif saat ini.
Selain kemampuan teknis, aspek visual menjadi sangat
krusial dalam dunia kerja digital, sehingga penguasaan Canva menjadi syarat
wajib bagi siswa untuk mempresentasikan ide mereka secara profesional.
Guru-guru di sekolah vokasi memanfaatkan platform ini untuk melatih siswa
membuat portofolio digital yang menarik, yang dapat langsung digunakan saat
melamar pekerjaan setelah lulus. Melalui visualisasi yang kuat, siswa diajarkan
bagaimana membangun branding diri dan memahami psikologi desain dalam pemasaran
produk atau jasa. Tren ini membawa angin segar bagi pendidikan vokasi, di mana
kreativitas kini bisa dipelajari melalui sistem yang terstruktur dan mudah
diakses oleh semua kalangan, termasuk siswa di daerah terpencil sekalipun.
Koordinasi antara dunia pendidikan dan industri juga
semakin lancar berkat pemanfaatan WhatsApp Web untuk memantau program praktik
kerja lapangan (PKL). Para pembimbing industri dapat memberikan umpan balik
langsung kepada guru pendamping di sekolah mengenai perkembangan keterampilan
siswa melalui grup komunikasi yang terintegrasi. Efisiensi komunikasi ini
memastikan bahwa setiap kendala yang muncul di lapangan dapat segera dicari
solusinya, sehingga proses transfer pengetahuan berjalan tanpa hambatan birokrasi
yang rumit. Selain itu, penggunaan media sosial sebagai galeri karya siswa juga
didorong untuk memperluas jejaring profesional mereka sejak dini, menciptakan
ekosistem belajar yang berorientasi pada hasil nyata.
Penggunaan fitur Google Translate juga memberikan
keunggulan kompetitif bagi siswa vokasi untuk mempelajari manual teknis atau
perangkat lunak terbaru yang seringkali hanya tersedia dalam bahasa Inggris.
Dengan kemampuan menerjemahkan teks teknis secara akurat, siswa tidak lagi
memiliki hambatan dalam mengadopsi teknologi global yang berkembang pesat.
Pendidikan vokasi yang melek teknologi ini menjadi fondasi bagi Indonesia untuk
menjadi basis produksi yang inovatif di kawasan Asia Tenggara. Transformasi digital
di tingkat SMK bukan hanya tentang alat, tetapi tentang perubahan pola pikir
siswa untuk menjadi pembelajar mandiri yang mampu beradaptasi dengan segala
bentuk kemajuan teknologi di masa depan.
Secara berkelanjutan, pemerintah terus memantau dampak
integrasi teknologi ini melalui sistem data pendidikan yang terpusat.
Keberhasilan siswa dalam mendapatkan pekerjaan yang layak setelah lulus menjadi
indikator utama keberhasilan kurikulum ini dalam mendukung target pembangunan
berkelanjutan. Dengan memberikan akses seluas-luasnya kepada alat-alat digital
kelas dunia, Indonesia sedang menyiapkan tenaga kerja yang tidak hanya mampu
mengoperasikan mesin, tetapi juga mampu mengelola informasi dan kreativitas
secara cerdas. Inilah esensi dari pendidikan yang memberdayakan, di mana setiap
individu dibekali dengan senjata intelektual untuk menghadapi persaingan
ekonomi global yang semakin ketat dan menantang bagi kemajuan bangsa.
###
Penulis: Anisa Rahmawati