Ringkasan MK Kebijakan dan Kepemimpinan di Pendidikan Dasar Inklusif
Penulis: Della Octavia Citra Lestari (Mahasiswa S2 Dikdas angkatan 2025)
Kebijakan dan Kepemimpinan di Pendidikan Dasar Inklusif merupakan mata kuliah yang membekali calon guru dan tenaga kependidikan dengan pemahaman mendalam tentang kerangka kebijakan, prinsip-prinsip kepemimpinan transformatif, dan strategi praktis yang diperlukan untuk mewujudkan dan mengelola lingkungan pendidikan dasar yang benar-benar inklusif, di mana setiap anak, tanpa terkecuali, dapat belajar bersama. Topik yang akan dipelajari dalam mata kuliah ini, diantaranya: 1) Menganalisis Pendidikan Inklusif di Sekolah Dasar; 2) Implementasi Pendidikan Inklusif di Sekolah Dasar; 3) Menelaah Teori Leader-member Exchange dalam Kepemimpinan di Pendidikan Dasar; 4) Menelaah Teori Authentic dalam Kepemimpinan di Sekolah Dasar; 5) Menelaah dan Memecahkan Masalah dengan Teori Servant Leadership di Pendidikan Dasar; 6) Menelaah dan Menganalisis Masalah dengan Menggunakan Teori Gender Leadership; 7) Menelaah dan Menganalisis Masalah dengan Menggunakan Teori Cultural Leadership di Pendidikan Dasar; 8) Menelaah dan Menganalisis Aspek Formula Kebijakan di Pendidikan Dasar; 9) Menelaah dan Menganalisis Aspek Rumusan Kebijakan di Pendidikan Dasar; 10) Menelaah dan Menganalisis Aspek Konten Kebijakan di Pendidikan Dasar; dan 11) Menganalisis dan Menyelesaikan Masalah Kepemimpinan dalam Aspek Pengambilan Kebijakan di Lembaga Pendidikan Dasar. Dalam mata kuliah ini, saya membahas poin 4, yaitu menelaah teori authentic dalam kepemimpinan di sekolah dasar.
Teori Authentic dalam Kepemimpinan di Sekolah Dasar
Kepemimpinan autentik adalah model perilaku kepemimpinan yang dapat mempromosikan kesadaran diri yang lebih besar, perspektif etis, pemrosesan informasi yang seimbang, dan transparansi relasional, yang dapat membentuk pemimpin untuk memotivasi karyawan untuk maju. Ciri-ciri pemimpin autentik adalah sebagai berikut.
a. Self Awareness (Kesadaran Diri). Cara seseorang memandang dan memahami dirinya sendiri dari waktu kewaktu. Selain itu memahami akan kelebihan serta keruangan yang dimiliki. b. Relational Transparency (Relasi yang Transparan). Persepsi pengikut terhadap perilaku pemimpin yang menampilkan dirinya secara asli dalam berinteraksi dengan orang lain, bukan pencitraan diri maupun pendistorsian diri.
c. Balanced Processing (pemrosesan yang seimbang). Menunjukkan seorang pemimpin yang secara obyektif menganalisis semua informasi dan data yang ada secara relevan sebelum mengambil keputusan.
d. Internalized Moral Perspective (PerspektifMoralyang Diinternalisasi). Merupakan gambaran bawahan terhadap atasan mengenai internalisasi dan regulasi diri, artinya adalah apabila atasan membuat suatu keputusan maka keputusan tersebut sesuai dengan regulasi diri atau tidak bertentangan dengan nilai moral yang dianutnya.
Adapun indicator dari seorang pemimpin autentik, yakni:
a. Kewaspadaan Diri. Meningkatnya kewaspadaan diri adalah faktor perkembangan penting bagi pemimpin otentik. Dengan mengenali diri sendiri, pemimpin otentik memiliki pemahaman yang kuat seputar kediriannya sehingga menjadi pedoman mereka baik dalam setiap proses pengambilan keputusan maupun dalam perilaku kesehariannya.
b. Nilai Pemimpin otentik akan melawan. Setiap tuntutan situasional serta sosial yang dianggap mencoba melemahkan nilai-nilai yang mereka miliki.
c. Emosi. Pemimpin otentik juga memiliki kewaspadaan diri yang bersifat emosional. Semakin tinggi kecerdasan emosional seseorang, semakin waspada mereka atas emosi tersebut. d. Tujuan. Pendimpin otentik berorientasi pada masa depan. Mereka secara terus-menerus berupaya mengembangkan baik dirinya maupun para pengikutnya.
Terdapat peranan kepala sekolah sebagai pemimpin autentik terhadap kepuasan kerja guru, diantaranya sebagai berikut.
a. Peranan yang Bersifat Interpersonal. Dewasa ini salah tuntutan yang harus dipenuhi seorang pimpinan ialah keterampilan insani. Keterampilan insani mutlak diperlukan karena pada dasarnya dalam menjalankan kepemimpinannya, seorang pimpinan berinteraksi dengan manusia lain, bukan hanya dengan para bawahannya, akan tetapi juga berbagai pihak yang
berkepentingan, yang dikenal dengan istilah stakeholder.
b. Peranan yang Bersifat Informasional. Peranan pimpinan yang bersifat informasional mengambil tiga hal bentuk, yaitu: 1) seorang pimpinan adalah pemantau arus informasi yang terjadi dari dan kedalamorganisasi; 2) sebagai pembagi informasi; dan 3) selaku juru bicara organisasi.
c. Peranan Pengambilan Keputusan. Peranan ini mengambil tiga bentuk suatu keputusan, yaitu: 1) sebagai entrepreneur; 2) peredam gangguan; dan 3) pembagi sumber dana dan daya.