Robotika Mini Mengubah Cara Anak SD Memahami Belajar dan Bermain
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya —Belajar sering kali dipersepsikan anak
sebagai aktivitas yang terpisah dari kesenangan. Namun, teknologi menghadirkan
kemungkinan baru untuk menyatukan keduanya. Robotika mini menjadi medium yang
menjembatani belajar dan bermain. Anak terlibat secara aktif tanpa merasa
tertekan. Proses belajar terasa seperti eksplorasi. Antusiasme tumbuh dari rasa
penasaran. Anak belajar dengan penuh kegembiraan.
Saat anak
merakit dan menggerakkan robot sederhana, mereka belajar lebih dari sekadar
teknologi. Anak memahami konsep sebab akibat melalui pengalaman langsung. Satu
perintah menghasilkan satu respons. Jika respons tidak sesuai, anak terdorong
untuk mengevaluasi. Proses ini melatih kemampuan berpikir kritis. Anak belajar
memecahkan masalah secara mandiri. Keberhasilan kecil memberi dorongan motivasi
yang besar.
Robotika mini
juga melatih kerja sama dan komunikasi. Anak sering berdiskusi tentang cara
terbaik menyusun instruksi. Mereka saling berbagi ide dan solusi. Interaksi
sosial ini memperkaya pengalaman belajar. Anak belajar bahwa teknologi bisa
menjadi alat kolaborasi. Kepercayaan diri sosial pun ikut berkembang. Belajar
tidak lagi bersifat individual.
Pengaruh
budaya digital membuat anak tidak asing dengan konsep teknologi. Namun,
robotika mini membawa anak melampaui konsumsi pasif. Anak menjadi pelaku aktif
dalam proses teknologi. Mereka memahami bahwa teknologi dapat dirancang sesuai
kebutuhan. Pengalaman ini membentuk sikap kreatif. Anak tidak hanya mengikuti
tren, tetapi mencipta.
Melalui
robotika mini, belajar teknologi menjadi pengalaman yang bermakna. Anak
menemukan bahwa belajar bisa menyenangkan dan menantang sekaligus. Antusiasme
yang muncul bersifat mendalam. Pendidikan teknologi tidak lagi terasa abstrak.
Ia hadir secara nyata dalam pengalaman anak.
Penulis: Resinta Aini Z.