Rumah yang Menjadi Sekolah, Hati yang Menjadi Tempat Pulang
Sejak kecil, saya tumbuh
di sebuah rumah yang tidak biasa. Rumah itu bukan sekadar tempat tinggal bagi
keluarga kami, melainkan ruang kehidupan bagi sepuluh anak dengan kebutuhan
khusus. Mereka adalah anak-anak tuna netra, tuna rungu, ADHD, dan autisme. Rumah
kami lebih menyerupai sebuah asrama kecil tempat belajar, bertumbuh, dan saling
menguatkan dalam keterbatasan.
Semua bermula dari sosok
perempuan luar biasa yang saya panggil Ibuk. Dengan keberanian dan ketulusan,
Ibuk mendirikan Sekolah Luar Biasa (SLB). Keterbatasan fasilitas membuat
sekolah itu tidak hanya berlangsung di ruang kelas, tetapi
juga berpindah ke rumah kami. Anak-anak itu akhirnya tinggal bersama kami.
Mereka bukan hanya murid, melainkan bagian dari keluarga.
Sebagian besar dari mereka
tidak pernah dikunjungi orang tuanya. Ada yang dititipkan dengan harapan, ada
pula yang ditinggalkan dengan pasrah. Ibuk mengasuh mereka sepenuh hati memandikan,
menyuapi, mengajarkan kemandirian,
menenangkan saat emosi meluap, dan mendampingi mereka memahami dunia dengan
cara mereka sendiri.
Sebagai anak kecil, saya
menyaksikan semua itu. Saya belajar tentang kesabaran, empati, dan keikhlasan.
Saya sering bertanya dalam hati, dari mana biaya hidup mereka berasal. Namun
Ibuk tidak pernah mengeluh. Makanan selalu tersedia,
pendidikan tetap berjalan, dan kasih sayang tidak pernah berkurang.
Waktu berlalu begitu
cepat. Anak-anak yang dulu kami rawat kini telah tumbuh dewasa. Mereka telah
bekerja, berkeluarga, dan hidup mandiri. Meski demikian, ikatan batin kami
tidak pernah putus. Mereka tetap menjadi bagian dari keluarga kami.
Kini, di mana pun saya
berada dan ke mana pun langkah saya menuju, saya selalu mengingat mereka. Saya
percaya, bisa jadi keberkahan hidup saya hari ini adalah hasil dari doa-doa
tulus mereka. Doa yang sederhana, tetapi lahir dari hati yang
jujur.
Kisah ini menjadi best
practice tentang pendidikan inklusif yang hidup. Bahwa pendidikan sejati adalah
tentang memanusiakan manusia, mencintai tanpa syarat, dan hadir sepenuh hati.
Rumah kami telah menjadi saksi bahwa satu keluarga kecil dapat memberi dampak
besar bagi kehidupan banyak orang.