Sains Sebagai Inkuiri: Melampaui Hafalan Tabel Periodik dan Klasifikasi
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Pembelajaran
sains di berbagai sekolah dasar di Surabaya kini mulai menitikberatkan pada
metode inkuiri yang dinamis, di mana fenomena alam dijadikan teka-teki nyata
yang harus dipecahkan siswa melalui eksperimen mandiri daripada menghafal
istilah-istilah ilmiah yang rumit dan menjemukan. Perubahan paradigma ini
dilandasi oleh kesadaran mendalam bahwa sains pada hakikatnya bukan sekadar
kumpulan fakta mati, melainkan sebuah metode berpikir sistematis untuk memahami
cara kerja alam semesta. Siswa didorong untuk berani mengajukan hipotesis
sendiri, melakukan observasi lapangan, dan menarik kesimpulan berdasarkan bukti
empiris yang ditemukan, yang secara otomatis membangun kerangka berpikir ilmiah
sejak usia sangat dini.
Paradigma inkuiri ini
berhasil menghidupkan kembali rasa takjub alami anak terhadap dunia sains yang
selama ini sering kali padam akibat beban hafalan klasifikasi makhluk hidup
atau siklus air yang diajarkan secara kaku dan teoretis. Ketika siswa sekolah
dasar diberikan tantangan nyata, seperti menyaring air kotor menjadi air bersih
atau membangun struktur jembatan tahan beban dari bahan sederhana, mereka
sebenarnya sedang mempraktikkan sains dalam bentuknya yang paling murni:
pemecahan masalah melalui penalaran kritis. Studi terbaru menunjukkan bahwa
pembelajaran sains berbasis aktivitas inkuiri mampu meningkatkan kemampuan
kognitif anak secara simultan dengan keterampilan motorik dan kreativitas
mereka. Ini merupakan revolusi mental yang diperlukan untuk mencetak generasi
peneliti masa depan, bukan sekadar penghafal setia buku teks sains.
Dalam praktiknya,
laboratorium sekolah tidak lagi hanya berisi alat-alat mahal yang dipajang di
lemari, melainkan menjadi ruang eksplorasi di mana kegagalan eksperimen
dihargai sebagai bagian dari proses penemuan. Guru sains kini berperan sebagai
"rekan peneliti" yang membimbing siswa mengolah rasa ingin tahu
mereka menjadi pertanyaan penelitian yang logis. Anak-anak diajarkan bahwa di
dalam sains, kata "saya tidak tahu" adalah awal dari sebuah
petualangan besar untuk mencari jawaban melalui data. Pendekatan ini
menghilangkan rasa takut akan kesalahan yang sering kali menghambat inovasi,
menciptakan budaya belajar yang penuh keberanian dan integritas ilmiah sejak
dini.
Penerapan metode inkuiri
ini juga sangat efektif dalam menghubungkan kurikulum sekolah dengan tantangan
lingkungan lokal di Makassar, seperti isu kenaikan permukaan air laut atau
pengelolaan sampah pesisir. Siswa diajak untuk mencari solusi sains atas masalah
yang mereka lihat sehari-hari di lingkungan rumah mereka sendiri. Hal ini
memberikan rasa urgensi dan kebermanfaatan pada ilmu yang mereka pelajari,
sehingga motivasi belajar tumbuh secara intrinsik tanpa perlu dipaksa. Sains
akhirnya dipandang bukan sebagai subjek akademik yang jauh dan abstrak,
melainkan sebagai alat bantu nyata untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat
di sekitar mereka.
Tantangan utama dalam
implementasi metode ini adalah kesiapan sarana prasarana serta pola pikir orang
tua yang terkadang masih mengejar nilai angka tinggi dalam ujian yang berbasis
hafalan. Dibutuhkan edukasi publik yang masif untuk menyadari bahwa nilai sains
yang sesungguhnya terletak pada ketajaman observasi dan keberanian bertanya,
bukan pada kesempurnaan menjawab soal pilihan ganda yang statis. Pemerintah
daerah mulai memberikan dukungan melalui penyediaan kit eksperimen sederhana ke
sekolah-sekolah di pelosok agar setiap anak memiliki kesempatan yang sama untuk
melakukan praktik. Pemerataan akses inkuiri adalah kunci utama untuk menjaga
agar bakat-bakat ilmuwan muda tidak layu sebelum berkembang hanya karena
keterbatasan fasilitas.
Dampak psikologis dari
pembelajaran sains berbasis inkuiri adalah tumbuhnya rasa percaya diri yang
kuat pada siswa dalam menghadapi masalah yang belum ada jawabannya. Mereka
terbiasa dengan metode trial and error, yang melatih ketangguhan mental
(resilience) dalam menghadapi kebuntuan proses. Kemampuan ini sangat
relevan untuk tantangan masa depan yang semakin tidak terduga, di mana
solusi-solusi konvensional sering kali tidak lagi memadai. Sains mendidik anak
untuk menjadi pemikir yang mandiri, objektif, dan selalu berbasis pada data,
kualitas karakter yang sangat dibutuhkan untuk melawan maraknya pseudosains dan
informasi yang tidak akurat di masyarakat.
Sebagai kesimpulan, jika
kita konsisten memberikan ruang bagi anak untuk "melakukan" sains
ketimbang hanya "membaca" sains, kita sebenarnya sedang menyiapkan
fondasi kemandirian teknologi bangsa di masa depan. Sains harus menjadi alat
bagi anak-anak Indonesia untuk menjawab tantangan zaman secara mandiri, mulai
dari isu perubahan iklim hingga krisis energi di masa mendatang. Kita tidak
sedang mencetak generasi yang hafal tabel periodik luar kepala, tetapi generasi
yang tahu bagaimana menggunakan unsur-unsur di alam untuk kebaikan kemanusiaan.
Sains berbasis inkuiri adalah jalan terang menuju Indonesia yang berbasis pada
ilmu pengetahuan dan inovasi yang berkelanjutan.
###
Penulis: Nur Santika
Rokhmah