Sekolah Rakyat dan Pendidikan Karakter: Membangun Etos Kerja Sejak Dini
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Pendidikan karakter sering kali hanya berakhir pada hafalan nilai-nilai moral tanpa implementasi nyata, namun Sekolah Rakyat model baru mencoba mengubah hal itu dengan menjadikan keterampilan sebagai sarana pembentuk karakter. Di berbagai sekolah percontohan pada semester ganjil 2024/2025, siswa SD tidak hanya diajarkan tentang kejujuran dan kerja keras secara verbal, tetapi mempraktikkannya melalui proyek pembuatan produk kerajinan yang membutuhkan ketelitian dan kesabaran tinggi. Model pendidikan ini bertujuan menciptakan profil pelajar Pancasila yang tidak hanya unggul dalam etika, tetapi juga tangguh dalam etos kerja dan produktivitas.
Secara teoritis, keamanan psikologis yang dibangun melalui pembiasaan positif di bengkel kerja sekolah adalah kunci pembentukan identitas diri anak. Saat seorang siswa berhasil menyelesaikan sebuah proyek tangan, ia mendapatkan penguatan internal berupa rasa kompeten dan berharga (self-worth). Data psikologi pendidikan menunjukkan bahwa sekolah yang menerapkan aktivitas fisik produktif mengalami penurunan tingkat perundungan karena energi kompetitif siswa tersalurkan ke dalam karya positif. Inilah fondasi utama yang memungkinkan karakter siswa terbentuk secara organik melalui keringat dan kerja keras yang membuahkan hasil nyata.
Analisis mendalam menunjukkan bahwa keterampilan seperti menjahit, memasak dasar, atau pertukangan kayu melatih fungsi kognitif tingkat tinggi seperti perencanaan, pengorganisasian, dan evaluasi diri. Rutinitas dalam menyelesaikan tugas keterampilan melatih kontrol diri dan rasa hormat terhadap proses, bukan sekadar hasil instan. Sekolah dasar berfungsi sebagai miniatur masyarakat di mana siswa belajar bahwa kualitas karya mereka sangat bergantung pada kedisiplinan dan integritas yang mereka terapkan selama proses pembuatan. Pembiasaan ini menjadi "jangkar" moral yang sangat kuat bagi masa depan mereka.
Peran guru bergeser menjadi desainer pengalaman belajar yang harus mampu menghubungkan nilai karakter dengan aktivitas teknis. Guru yang membiasakan diri berbicara dengan nada lembut namun tegas saat mengoreksi kesalahan teknis siswa sedang mengajarkan standar profesionalisme dan adab dalam bekerja. Lingkungan yang nyaman tercipta ketika siswa melihat adanya sinkronisasi antara ucapan guru tentang tanggung jawab dan bagaimana guru tersebut merawat alat-alat kerja di sekolah. Keteladanan ini merupakan kurikulum tersembunyi yang membentuk bawah sadar anak tentang pentingnya kualitas kerja.
Inovasi dalam pembiasaan positif di Sekolah Rakyat juga melibatkan sistem penghargaan bagi siswa yang menunjukkan "Integritas Karya", yaitu penghargaan bagi mereka yang jujur dalam proses dan berani mengakui kesalahan dalam pembuatan proyek. Hal ini mengubah paradigma disiplin dari yang semula berbasis hukuman menjadi berbasis pertumbuhan karakter melalui refleksi atas kegagalan teknis. Pengakuan formal atas kegigihan siswa memberikan dorongan psikologis yang kuat bagi anak untuk membentuk identitas sebagai pribadi yang tangguh dan jujur dalam setiap tantangan yang dihadapi.
Sinergi dengan orang tua menjadi kunci keberlanjutan pembiasaan etos kerja ini agar nilai yang dibangun di sekolah tidak luntur saat anak berada di zona nyaman rumah. Sekolah aktif mengadakan kampanye "Sabtu Berkarya" di mana siswa dan orang tua bekerja sama menyelesaikan proyek rumah tangga sederhana. Dialog rutin mengenai perkembangan karakter melalui hobi dan keterampilan anak memastikan bahwa proses pendidikan berlangsung secara holistik. Tanpa dukungan orang tua, nilai kerja keras di sekolah hanya akan menjadi formalitas yang gagal menyentuh kedalaman sanubari anak secara permanen.
Sebagai penutup, penggabungan keterampilan dan karakter dalam model Sekolah Rakyat adalah solusi tepat untuk menjawab tantangan krisis moral dan produktivitas bangsa. Kita harus menyadari bahwa menciptakan sekolah yang hebat tidak cukup dengan teori akhlak, melainkan dengan memberikan kesempatan bagi anak untuk berbuat baik melalui karya nyata. Sekolah dasar harus menjadi oase pertumbuhan karakter, di mana setiap anak merasa bangga atas kerja keras dan kejujuran mereka sendiri. Mari kita jadikan Sekolah Rakyat sebagai denyut nadi pendidikan kita, demi melahirkan generasi yang tidak hanya pintar, tapi juga beradab dan berdaya saing tinggi.
###
Penulis: Nur Santika Rokhmah