Sekolah Rakyat dan Transformasi Pendidikan Berbasis Skillset guna Mengikis Gap Kompetensi Lulusan
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya - Persoalan kesenjangan kompetensi antara lulusan institusi pendidikan dan kebutuhan riil di dunia industri telah menjadi isu klasik yang memerlukan solusi sistemik. Sekolah Rakyat hadir sebagai garda terdepan dalam melakukan transformasi pendidikan dengan menitikberatkan pada pengembangan rumpun keahlian atau skillset tertentu. Fokus ini sangat relevan mengingat pasar kerja saat ini lebih mengutamakan bukti nyata kapabilitas daripada sekadar ijazah formal yang bersifat administratif. Sejak dini, siswa diperkenalkan pada berbagai domain keterampilan mulai dari teknologi informasi, seni terapan, hingga komunikasi publik. Strategi ini diharapkan mampu memangkas waktu adaptasi lulusan saat mereka nantinya terjun ke dunia profesi yang sesungguhnya.
Penerapan pembelajaran berbasis skillset menuntut adanya sinkronisasi antara materi di sekolah dengan standar kompetensi yang berlaku di dunia industri internasional. Hal ini dilakukan melalui penyusunan modul ajar yang melibatkan praktisi ahli dari berbagai bidang profesi untuk menjamin validitas materi. Siswa didorong untuk mencapai level kompetensi tertentu yang diakui melalui sistem sertifikasi mikro yang terintegrasi dalam raport pendidikan mereka. Melalui skema ini, rekam jejak kemampuan siswa dapat terpantau secara objektif dan berkelanjutan dari tahun ke tahun. Dampak positifnya adalah meningkatnya kepercayaan diri siswa karena mereka merasa memiliki keunggulan kompetitif yang nyata dibandingkan teman sebaya lainnya.
Transformasi ini juga membawa perubahan pada metode evaluasi yang beralih dari ujian tertulis berbasis hafalan menuju uji kompetensi berbasis portofolio. Setiap karya yang dihasilkan oleh siswa didokumentasikan dengan baik sebagai bukti perkembangan keterampilan mereka selama masa studi di sekolah dasar. Portofolio ini menjadi instrumen yang jauh lebih berharga untuk menilai kesiapan seorang siswa dalam menghadapi jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Selain itu, evaluasi berbasis karya ini mampu memberikan gambaran yang lebih akurat mengenai kelemahan dan kekuatan setiap individu. Guru dapat memberikan umpan balik yang lebih spesifik dan konstruktif guna membantu siswa memperbaiki kualitas karya mereka di masa mendatang.
Namun, keberhasilan transformasi pendidikan berbasis skillset ini juga memerlukan dukungan regulasi yang kuat dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. Kebijakan mengenai standarisasi kompetensi lulusan sekolah dasar perlu ditinjau ulang agar selaras dengan model Sekolah Rakyat yang sedang dikembangkan. Birokrasi pendidikan harus memberikan ruang improvisasi bagi sekolah untuk melakukan eksperimentasi dalam metode pembelajaran vokasional mereka. Tanpa payung hukum yang jelas, inovasi ini dikhawatirkan akan terhambat oleh aturan-aturan administratif yang cenderung kaku dan kurang dinamis. Fleksibilitas regulasi menjadi kunci agar transformasi ini dapat berjalan secara masif dan berkelanjutan di seluruh penjuru tanah air.
Kesimpulannya, pengikisan gap kompetensi lulusan merupakan upaya jangka panjang yang harus dimulai dari fondasi paling dasar, yakni sekolah dasar. Sekolah Rakyat telah menunjukkan arah yang benar dengan menjadikan keterampilan praktis sebagai pilar utama dalam kurikulumnya yang inovatif. Jika model ini berhasil diterapkan secara konsisten, maka isu mengenai pengangguran terdidik diharapkan dapat teratasi secara perlahan namun pasti. Generasi baru yang dihasilkan akan menjadi motor penggerak ekonomi yang mandiri dan memiliki daya saing global yang sangat tinggi. Mari kita dukung penuh transformasi ini demi kemajuan dan martabat bangsa di mata dunia internasional.
Penulis : Kartika Natasya Kusuma Supardi.