Sekolah Rakyat Dulu dan Kini - Bagaimana Visi Pendidikan Merakyat Bertransformasi
Penulis:
Neni Mariana
Sumber:
images.google.com
Nama
"Sekolah Rakyat" yang dipilih untuk program pendidikan boarding
school bagi anak-anak miskin bukan kebetulan, melainkan sengaja merujuk pada
Sekolah Rakyat historis yang menjadi cikal bakal pendidikan dasar di Indonesia.
Kesamaan visi antara Sekolah Rakyat di masa lalu dengan Sekolah Rakyat modern
terletak pada komitmen untuk memberikan pendidikan yang merata dan accessible
bagi seluruh rakyat Indonesia tanpa diskriminasi berdasarkan latar belakang
sosial ekonomi. Sekolah Rakyat pasca kemerdekaan yang dibuka gratis di seluruh
Indonesia pada tahun 1946 adalah manifestasi dari cita-cita founding fathers
untuk mencerdaskan kehidupan bangsa sebagaimana diamanatkan dalam Pembukaan UUD
1945, sebuah komitmen yang kini dihidupkan kembali melalui Sekolah Rakyat 2025
dengan pendekatan yang lebih komprehensif dan intensif untuk menjangkau
kelompok yang paling rentan. Kedua program ini lahir dari kesadaran bahwa
pendidikan adalah kunci untuk membebaskan bangsa dari kemiskinan dan
ketidakberdayaan, dan bahwa negara memiliki tanggung jawab untuk memastikan
setiap warga negara mendapat kesempatan pendidikan yang layak terlepas dari
kemampuan ekonomi mereka.
Perbedaan
antara kedua konsep Sekolah Rakyat ini mencerminkan evolusi pemahaman tentang
apa yang diperlukan untuk benar-benar menyetarakan kesempatan pendidikan.
Sekolah Rakyat historis fokus pada pembebasan biaya sekolah dan penyediaan
akses fisik ke gedung sekolah, dengan asumsi bahwa ketika akses sudah terbuka
maka semua anak akan dapat belajar dengan baik. Pengalaman puluhan tahun
menunjukkan bahwa akses saja tidak cukup karena anak-anak dari keluarga miskin
menghadapi berbagai hambatan di luar biaya SPP seperti harus bekerja membantu
orang tua, kekurangan gizi yang mengganggu konsentrasi belajar, tidak memiliki
tempat tenang untuk belajar di rumah, atau tekanan psikologis akibat kemiskinan
yang mengurangi motivasi belajar. Sekolah Rakyat 2025 mengadopsi pendekatan
holistik dengan model boarding school yang mengatasi semua hambatan tersebut
secara simultan membebaskan siswa dari semua kebutuhan material, menyediakan
lingkungan belajar yang optimal, dan memberikan dukungan psikososial yang
intensif. Transformasi ini menunjukkan kedewasaan kebijakan pendidikan
Indonesia yang semakin memahami kompleksitas masalah kemiskinan dan pendidikan.
Kedua program juga sama-sama menghadapi tantangan dan skeptisisme dari berbagai pihak, namun dengan semangat yang sama untuk tidak menyerah. Sekolah Rakyat pasca kemerdekaan menghadapi tantangan berat berupa keterbatasan anggaran, kekurangan guru, dan infrastruktur yang minim, namun dengan semangat gotong royong dan pengorbanan para guru, program tetap berjalan dan berhasil meningkatkan literasi masyarakat secara signifikan. Sekolah Rakyat 2025 juga menghadapi skeptisisme tentang keberlanjutan program mengingat biaya operasional yang sangat besar, pertanyaan tentang efektivitas dibandingkan dengan memperbaiki sekolah-sekolah yang sudah ada, serta kekhawatiran tentang apa yang terjadi setelah siswa lulus dan kembali ke komunitas asalnya. Namun dengan political will yang kuat dari presiden dan dukungan lintas kementerian, program terus bergulir dengan target perluasan yang ambisius. Pelajaran dari Sekolah Rakyat historis adalah bahwa komitmen jangka panjang dan konsistensi pelaksanaan lebih penting daripada kesempurnaan di awal, karena dampak pendidikan baru dapat dilihat setelah satu atau dua generasi, sehingga program Sekolah Rakyat 2025 harus dijaga keberlanjutannya terlepas dari perubahan kepemimpinan politik.