Sekolah Rakyat Menjadi Wajah Baru Pendidikan Dasar yang Lebih Membumi dan Memberdayakan
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya - Pembahasan mengenai sekolah rakyat kembali menguat seiring kebutuhan terhadap model pendidikan yang lebih manusiawi dan realistis. Pada gagasan ini, anak tidak ditempatkan sebagai penerima pasif, melainkan individu yang berhak tumbuh sesuai potensinya. Pendahuluan yang lebih panjang menggambarkan betapa pendidikan yang dekat dengan kehidupan nyata menjadi kebutuhan mendesak, terutama pada usia SD ketika fondasi karakter dan keterampilan mulai dibangun.
Sekolah rakyat menghadirkan suasana belajar yang hangat, partisipatif, dan tidak memaksa. Anak terlibat langsung dalam aktivitas yang mengasah kecerdasan kognitif, emosional, dan sosial secara seimbang. Mereka belajar berinteraksi, berkolaborasi, serta menemukan keunikan diri. Pembelajaran menjadi ruang tumbuh, bukan arena tekanan.
Kekuatan terbesar dari konsep ini adalah penekanan pada keterampilan praktis. Anak diajak berkreasi, berpikir logis, menyelesaikan masalah, dan memahami hubungan antara tindakan dan hasil. Nilai ketekunan, rasa ingin tahu, serta disiplin diri dibangun secara alami melalui aktivitas sehari hari.
Peluang besar terbuka bagi anak dari berbagai latar belakang. Sekolah rakyat memberi akses kepada mereka yang mungkin tidak memiliki fasilitas belajar lengkap, namun tetap berhak memperoleh pendidikan bermakna. Kesederhanaan justru menghasilkan kehangatan yang membuat anak merasa dihargai.
Tentu tantangan tetap ada. Beberapa pihak masih meragukan efektivitas model ini karena belum terbiasa dengan pendekatan yang berbeda. Selain itu, keberlanjutan program memerlukan dukungan yang kuat dari komunitas serta pihak yang peduli pada masa depan anak.
Meski demikian, semangat kebersamaan menjadi pondasi yang menjaga konsep ini tetap berjalan. Keterlibatan orang tua, tokoh masyarakat, dan relawan menjadi energi kolektif yang mendorong keberlangsungan sekolah rakyat. Anak tidak hanya belajar, tetapi tumbuh dalam ekosistem yang saling mendukung.
Dengan segala dinamika yang ada, sekolah rakyat membuktikan bahwa pendidikan yang relevan, hangat, dan memberdayakan bukan sekadar wacana. Melalui pembelajaran berbasis keterampilan sejak SD, lahir harapan baru tentang generasi yang kreatif, mandiri, dan memiliki kepedulian sosial yang kuat. Dari sinilah wajah baru pendidikan dasar menemukan maknanya.
###
Penulis: Resinta Aini Zakiyah