Sekolah Rakyat: Pelopor Pendidikan Gratis untuk Semua Rakyat Indonesia
Penulis:
Neni Mariana
Sumber:
images.google.com
Konsep
pendidikan gratis dan merata untuk semua warga negara tanpa memandang latar
belakang sosial ekonomi tampak seperti hal yang sudah sewajarnya di Indonesia
modern, namun sebenarnya ini adalah hasil dari perjuangan panjang yang dimulai
sejak masa kolonial dan diperkuat di era kemerdekaan melalui institusi Sekolah
Rakyat. Sebelum keberadaan Sekolah Rakyat, pendidikan adalah privilege yang
hanya dapat dinikmati oleh kalangan elit tertentu anak-anak Belanda, bangsawan
pribumi, dan segelintir keluarga kaya yang mampu membayar biaya pendidikan yang
mahal. Sebagian besar rakyat Indonesia, yang terdiri dari petani, buruh, dan
masyarakat kecil lainnya, tidak memiliki akses sama sekali terhadap pendidikan
formal dan terjebak dalam siklus kemiskinan dan kebodohan yang turun temurun.
Sekolah Rakyat hadir sebagai terobosan revolusioner yang mengubah paradigma
pendidikan dari komoditas eksklusif menjadi hak dasar setiap warga negara,
sebuah transformasi yang memiliki dampak mendalam terhadap perjalanan bangsa
Indonesia menuju kemandirian dan kemajuan. Memahami bagaimana Sekolah Rakyat
memelopori pendidikan gratis di Indonesia memberikan perspektif berharga
tentang pentingnya komitmen negara dalam menjamin akses pendidikan bagi semua
warga, sebuah komitmen yang harus terus dijaga dan ditingkatkan hingga kini.
Pendidikan
di Masa Kolonial: Cermin Ketidakadilan Sosial
Sistem
pendidikan yang diterapkan oleh pemerintah kolonial Belanda di Hindia Belanda
adalah cerminan nyata dari struktur sosial yang sangat hierarkis dan
diskriminatif yang mereka ciptakan. Di puncak piramida pendidikan terdapat
Europese Lagere School (ELS) atau Sekolah Rendah Eropa yang secara eksklusif
diperuntukkan bagi anak-anak Belanda dan orang Eropa lainnya, dengan kurikulum
lengkap menggunakan bahasa Belanda, fasilitas terbaik, dan guru-guru terlatih
yang didatangkan dari Belanda dengan gaji yang sangat tinggi. Lulusan ELS dapat
melanjutkan ke Hoogere Burgerschool (HBS) atau sekolah menengah tingkat tinggi,
dan kemudian ke universitas di Belanda, membuka jalan untuk karir profesional
dan posisi-posisi tinggi dalam pemerintahan kolonial dan sektor swasta. Satu
tingkat di bawahnya ada Hollandsch-Inlandsche School (HIS) yang dibuka mulai
1914 untuk anak-anak bangsawan dan priyayi pribumi, dengan kurikulum yang mirip
ELS namun dengan orientasi untuk menciptakan kelas menengah pribumi yang dapat
membantu administrasi kolonial sebagai pegawai rendah, juru tulis, mantri, dan
posisi-posisi serupa yang memerlukan kemampuan baca tulis dan perhitungan
dasar. Biaya untuk bersekolah di HIS cukup mahal sehingga hanya
keluarga-keluarga terpandang yang mampu menyekolahkan anak-anak mereka ke sana,
menciptakan kesenjangan bahkan di kalangan pribumi sendiri antara yang terdidik
dan yang buta huruf.
Sementara
itu, untuk mayoritas rakyat pribumi yang jumlahnya puluhan juta, pilihan
pendidikan yang tersedia sangat terbatas dan berkualitas rendah. Volkschool
yang mulai dibuka pada akhir abad ke-19 hanya menyediakan pendidikan tiga tahun
dengan kurikulum minimal membaca, menulis, dan berhitung dasar yang diajarkan
dalam bahasa Melayu atau bahasa daerah setempat. Guru-guru Volkschool
kebanyakan adalah pribumi yang hanya mendapat pelatihan singkat, dengan gaji
yang sangat rendah sehingga kualitas pengajaran pun menjadi tidak optimal.
Gedung sekolah seadanya, seringkali hanya berupa bangunan sederhana tanpa
fasilitas memadai, dengan murid-murid yang duduk di lantai atau bangku kayu
sederhana. Yang lebih problematis lagi, jumlah Volkschool sangat terbatas dan
kebanyakan hanya ada di kota-kota dan daerah-daerah yang dianggap strategis
oleh pemerintah kolonial, sementara desa-desa terpencil yang menjadi tempat
tinggal sebagian besar rakyat sama sekali tidak memiliki akses ke sekolah.
Bahkan untuk Volkschool yang gratis pun, banyak keluarga miskin yang tidak
mampu menyekolahkan anak-anak mereka karena mereka membutuhkan anak-anak untuk
membantu bekerja di sawah atau mencari nafkah untuk kelangsungan hidup
keluarga, sebuah dilema antara pendidikan jangka panjang versus kebutuhan
ekonomi jangka pendek yang sampai sekarang masih menjadi masalah di beberapa
daerah miskin di Indonesia.
Politik
pendidikan kolonial Belanda sebenarnya memiliki agenda terselubung yang jauh
dari semangat humanisme atau pencerahan. Pemerintah kolonial sangat menyadari
bahwa pendidikan yang terlalu luas dan berkualitas untuk pribumi dapat
membahayakan kekuasaan mereka karena akan menciptakan kelas terpelajar pribumi
yang kritis dan dapat menantang legitimasi penjajahan. Oleh karena itu, mereka
dengan sengaja membatasi akses dan kualitas pendidikan untuk rakyat pribumi,
hanya memberikan pendidikan secukupnya untuk menghasilkan tenaga kerja kasar
dan semi-skilled yang dapat mengisi posisi-posisi rendah dalam birokrasi dan
perusahaan kolonial. Konsep "divide et impera" atau "pecah belah
dan kuasai" juga diterapkan dalam pendidikan dengan menciptakan
stratifikasi yang sangat jelas antara anak-anak Eropa, anak-anak bangsawan, dan
anak-anak rakyat jelata, sehingga tidak akan terbentuk solidaritas horizontal
di antara kelompok-kelompok yang berbeda dalam masyarakat pribumi. Bahkan di
antara sesama pribumi, diciptakan kesenjangan antara yang bersekolah di HIS dan
yang bersekolah di Volkschool, antara yang dapat membaca dan menulis dengan
yang buta huruf, sehingga tidak mudah bagi mereka untuk bersatu melawan
kolonialisme. Ironisnya, justru ketidakadilan pendidikan inilah yang kemudian
memicu kesadaran nasional di kalangan terpelajar pribumi seperti Soekarno,
Mohammad Hatta, Soetomo, Ki Hadjar Dewantara, dan tokoh-tokoh pergerakan
nasional lainnya, yang menyadari bahwa pendidikan adalah kunci pembebasan
bangsa dari belenggu penjajahan dan kemiskinan.
Perjuangan
Tokoh Pergerakan: Membuka Pintu Pendidikan
Para
tokoh pergerakan nasional Indonesia menyadari dengan sangat baik bahwa
perjuangan melawan kolonialisme tidak cukup hanya dengan perlawanan fisik atau
politik, melainkan harus dimulai dari pendidikan yang dapat membangkitkan
kesadaran nasional dan memberdayakan rakyat. Ki Hadjar Dewantara, yang nama
aslinya Raden Mas Soewardi Soerjaningrat, adalah salah satu pionir yang paling
gigih dalam memperjuangkan pendidikan untuk rakyat melalui pendirian Perguruan
Taman Siswa pada tahun 1922 di Yogyakarta. Taman Siswa didirikan dengan
filosofi pendidikan yang sangat berbeda dari sistem kolonial, mengusung
prinsip-prinsip "ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karso, tut wuri
handayani" yang menekankan pada keteladanan, motivasi, dan bimbingan dalam
proses pendidikan. Taman Siswa tidak membeda-bedakan siswa berdasarkan latar
belakang sosial ekonomi, tidak mengenakan biaya atau mengenakan biaya minimal
sesuai kemampuan orang tua, dan menggunakan kurikulum yang menekankan pada
nilai-nilai kebangsaan, kebudayaan Indonesia, dan kemanusiaan universal. Dalam
waktu singkat, perguruan Taman Siswa berkembang pesat dengan cabang-cabang di
berbagai kota di Jawa dan kemudian meluas ke luar Jawa, menjadi alternatif
pendidikan yang terjangkau dan berkualitas bagi rakyat jelata yang sebelumnya
tidak memiliki akses ke pendidikan berkualitas. Perjuangan Ki Hadjar Dewantara
dalam mendirikan dan mempertahankan Taman Siswa menghadapi berbagai tekanan
dari pemerintah kolonial yang mencurigai sekolah ini sebagai sarang gerakan
nasionalis, namun dengan kegigihan dan dukungan masyarakat, Taman Siswa tetap
eksis dan bahkan menjadi inspirasi bagi gerakan pendidikan rakyat lainnya.
Organisasi-organisasi
pergerakan nasional lain juga aktif dalam mendirikan sekolah-sekolah rakyat
sebagai bagian dari perjuangan memajukan bangsa. Muhammadiyah yang didirikan
oleh K.H. Ahmad Dahlan pada tahun 1912 sejak awal menempatkan pendidikan sebagai
salah satu pilar utama gerakan pembaruan Islam di Indonesia, dengan mendirikan
sekolah-sekolah yang menggabungkan pendidikan agama Islam dengan ilmu
pengetahuan umum modern. Sekolah-sekolah Muhammadiyah tidak mengenakan biaya
atau mengenakan biaya sangat murah, sehingga dapat diakses oleh anak-anak dari
keluarga miskin, dan menggunakan metode pengajaran yang lebih progresif
dibandingkan pendidikan tradisional di pesantren maupun sekolah kolonial.
Nahdlatul Ulama yang didirikan oleh K.H. Hasyim Asy'ari juga mengembangkan
sistem pendidikan pesantren yang tidak hanya mengajarkan ilmu agama tetapi juga
ilmu-ilmu umum, dengan biaya yang sangat terjangkau atau bahkan gratis bagi
santri yang tidak mampu. Organisasi-organisasi nasionalis sekuler seperti Budi
Utomo, Sarekat Islam, dan Partai Nasional Indonesia juga mendirikan
sekolah-sekolah dan kursus-kursus untuk rakyat, meskipun dengan sumber daya
yang sangat terbatas. Gerakan Sekolah Rakyat atau Sekolah Desa yang digalakkan
oleh berbagai organisasi pergerakan ini meskipun skalanya kecil dan sumber
dayanya terbatas, memiliki dampak sosial dan politik yang besar karena berhasil
membuka akses pendidikan bagi ribuan anak Indonesia yang sebelumnya tidak
pernah bersentuhan dengan pendidikan formal, dan yang lebih penting lagi,
sekolah-sekolah ini menjadi tempat persemaian kesadaran nasional yang kelak
akan membuahkan gerakan kemerdekaan yang lebih masif.
Tekanan
dari gerakan nasional yang semakin kuat dan kritik dari kalangan liberal di
Belanda sendiri terhadap kebijakan pendidikan yang tidak adil, ditambah dengan
pertimbangan ekonomi bahwa kolonialisme modern memerlukan tenaga kerja yang
lebih terdidik, akhirnya memaksa pemerintah kolonial untuk secara bertahap
memperluas akses pendidikan bagi pribumi. Pada tahun 1907, pemerintah kolonial
mengeluarkan kebijakan pendidikan yang memperluas jaringan Volkschool ke lebih
banyak daerah dan memperpanjang masa pendidikan dari tiga tahun menjadi lima
tahun, meskipun tetap dengan standar yang jauh lebih rendah dibandingkan
sekolah untuk anak-anak Eropa. Program "pemberantasan buta huruf"
mulai digalakkan meskipun dengan sumber daya yang sangat terbatas dan
implementasi yang tidak merata. Pembukaan Sekolah Guru atau Kweekschool untuk
mendidik guru-guru pribumi mulai diperluas meskipun dengan standar yang lebih
rendah dibandingkan pendidikan guru untuk guru-guru Eropa. Namun semua langkah
ini tetap saja jauh dari cukup mengingat besarnya jumlah anak usia sekolah yang
tidak tertampung, dan motivasi di balik kebijakan ini lebih kepada kebutuhan
praktis kolonial daripada komitmen genuwin terhadap pemberdayaan rakyat.
Ironisnya, walaupun langkah-langkah ini dilakukan dengan setengah hati dan
penuh kecurigaan oleh pemerintah kolonial, dampaknya sangat signifikan karena
berhasil menciptakan generasi terpelajar yang lebih luas yang kemudian menjadi
aktor-aktor utama dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia, membuktikan kebenaran
pepatah bahwa pendidikan adalah senjata paling berbahaya melawan penindasan.
Era
Kemerdekaan: Mewujudkan Pendidikan untuk Semua
Kemerdekaan
Indonesia pada 17 Agustus 1945 membawa perubahan fundamental dalam filosofi dan
kebijakan pendidikan nasional, dengan komitmen eksplisit untuk mewujudkan
pendidikan yang merata dan berkualitas bagi seluruh rakyat Indonesia tanpa
diskriminasi. Pembukaan UUD 1945 dengan tegas menyatakan bahwa salah satu
tujuan negara adalah "mencerdaskan kehidupan bangsa", sebuah mandat
konstitusional yang menempatkan pendidikan sebagai prioritas nasional. Pasal 31
UUD 1945 menyatakan bahwa setiap warga negara berhak mendapat pengajaran,
sebuah pengakuan eksplisit bahwa pendidikan adalah hak asasi yang harus dijamin
oleh negara. Pada 13 Maret 1946, melalui Konferensi Pendidikan di Yogyakarta,
pemerintah Republik Indonesia memutuskan untuk mengubah nama Kokumin Gakko
menjadi Sekolah Rakyat dan menegaskan bahwa Sekolah Rakyat akan dibuka di
seluruh Indonesia dan diberikan secara cuma-cuma kepada seluruh rakyat.
Keputusan ini sangat revolusioner mengingat kondisi Indonesia yang baru merdeka
sangat sulit, dengan infrastruktur yang hancur akibat perang, ekonomi yang
porak-poranda, dan ancaman agresi militer Belanda yang masih berlangsung, namun
para pemimpin bangsa tetap memprioritaskan pendidikan karena mereka menyadari
bahwa tanpa pendidikan, kemerdekaan hanya akan menjadi formalitas tanpa
substansi.
Implementasi
kebijakan pendidikan gratis menghadapi tantangan yang sangat berat di lapangan,
namun semangat dan pengorbanan para guru dan masyarakat membuat sistem tetap
dapat berjalan meskipun dengan berbagai keterbatasan. Banyak gedung sekolah
yang hancur atau rusak akibat perang harus diperbaiki dengan sumber daya
seadanya, bahkan tidak jarang kelas diadakan di rumah-rumah penduduk, balai
desa, atau bahkan di bawah pohon yang rindang. Guru-guru yang jumlahnya sangat
terbatas dan kualifikasinya beragam, rela mengajar dengan gaji yang sangat
minim atau bahkan tanpa gaji karena mereka menyadari bahwa mengajar adalah
bagian dari perjuangan membangun bangsa. Buku pelajaran sangat langka sehingga
satu buku harus digunakan oleh beberapa siswa secara bergantian, atau guru
menulis pelajaran di papan tulis untuk dicatat oleh siswa. Masyarakat secara
gotong royong membantu kebutuhan sekolah, mulai dari memperbaiki gedung,
menyediakan kayu bakar untuk memasak makanan guru, hingga membantu membayar
sebagian kecil gaji guru dengan hasil bumi atau uang seadanya. Dalam kondisi
yang sangat terbatas ini, yang gratis benar-benar gratis adalah biaya
pendaftaran dan uang sekolah bulanan, sementara untuk buku, seragam, dan
peralatan lainnya masih harus ditanggung oleh orang tua siswa atau dibantu oleh
masyarakat melalui sistem gotong royong. Meskipun demikian, kebijakan ini sudah
merupakan lompatan besar karena untuk pertama kalinya dalam sejarah Indonesia,
tidak ada lagi diskriminasi struktural yang menghalangi anak-anak rakyat jelata
untuk mengakses pendidikan dasar, dan biaya yang harus ditanggung keluarga jauh
lebih ringan dibandingkan masa kolonial.
Periode
awal kemerdekaan juga ditandai dengan perluasan akses pendidikan ke
daerah-daerah yang sebelumnya sama sekali tidak terjamah oleh sistem pendidikan
formal, terutama di luar Pulau Jawa yang selama masa kolonial sangat
terabaikan. Pemerintah pusat dan daerah berupaya membuka Sekolah Rakyat di
setiap desa dan kampung, meskipun dengan fasilitas seadanya dan guru seadanya,
dengan prinsip bahwa pendidikan minimal lebih baik daripada tidak ada
pendidikan sama sekali. Untuk daerah-daerah terpencil dan masyarakat adat yang
hidup jauh dari pusat pemerintahan, dikembangkan model Sekolah Rakyat Keliling
atau Sekolah Rakyat Mobile di mana guru berkeliling dari satu kampung ke
kampung lain untuk mengajar, sebuah model yang sangat fleksibel dan adaptif
dengan kondisi geografis Indonesia yang sangat beragam. Program pemberantasan
buta huruf juga digalakkan bukan hanya untuk anak-anak tetapi juga untuk orang
dewasa, dengan menyelenggarakan kursus-kursus baca tulis di malam hari atau
akhir pekan agar orang dewasa yang harus bekerja di siang hari tetap memiliki
kesempatan untuk belajar. Semua upaya ini meskipun masih jauh dari sempurna dan
banyak menghadapi kendala, menunjukkan kesungguhan pemerintah dan masyarakat
Indonesia dalam mewujudkan visi mencerdaskan kehidupan bangsa, sebuah visi yang
diwariskan oleh para pendiri bangsa dan harus terus dijaga serta ditingkatkan
oleh generasi penerus.
Warisan
Sekolah Rakyat dalam Sistem Pendidikan Modern
Konsep
pendidikan gratis yang dipelopori oleh Sekolah Rakyat pasca kemerdekaan terus
menjadi landasan kebijakan pendidikan Indonesia hingga saat ini, meskipun
dengan berbagai modifikasi dan penyesuaian sesuai perkembangan zaman. Program
Wajib Belajar 6 Tahun yang dicanangkan tahun 1984 dan kemudian diperluas
menjadi Wajib Belajar 9 Tahun pada tahun 1994 adalah kelanjutan dari komitmen
negara untuk menjamin akses pendidikan dasar bagi seluruh warga negara. Program
Bantuan Operasional Sekolah (BOS) yang dimulai tahun 2005 memberikan dana
langsung kepada sekolah untuk membiayai operasional sehingga sekolah tidak
perlu lagi memungut biaya dari siswa, mewujudkan komitmen pendidikan dasar
gratis yang sudah diperjuangkan sejak era Sekolah Rakyat. Program Indonesia
Pintar yang diluncurkan tahun 2014 memberikan bantuan langsung kepada siswa
dari keluarga kurang mampu untuk membiayai kebutuhan pendidikan seperti buku,
seragam, transportasi, dan lain-lain, memastikan bahwa tidak ada anak yang
putus sekolah karena alasan ekonomi. Semua program ini adalah implementasi
kontemporer dari visi yang sudah diletakkan oleh Sekolah Rakyat yaitu
pendidikan sebagai hak dasar yang harus dijamin oleh negara dan dapat diakses
oleh semua warga negara tanpa memandang kemampuan ekonomi. Meskipun dalam
implementasinya masih ada berbagai kekurangan dan tantangan, komitmen
fundamental terhadap pendidikan gratis dan merata tetap menjadi konsensus
nasional yang tidak tergoyahkan.
Namun
di tengah apresiasi terhadap pencapaian dalam hal akses pendidikan, kita juga
harus kritis dalam melihat berbagai tantangan yang masih dihadapi sistem
pendidikan Indonesia saat ini. Walaupun secara kuantitatif Angka Partisipasi
Kasar (APK) dan Angka Partisipasi Murni (APM) untuk pendidikan dasar sudah
mencapai hampir 100%, angka putus sekolah masih menjadi masalah serius terutama
pada level transisi dari SD ke SMP dan dari SMP ke SMA, di mana faktor ekonomi
keluarga, jarak ke sekolah, dan pernikahan dini menjadi penyebab utama.
Kesenjangan kualitas pendidikan antara sekolah di perkotaan dengan di pedesaan,
antara sekolah di Jawa dengan di luar Jawa, antara sekolah favorit dengan
sekolah pinggiran, masih sangat lebar dan belum ada solusi efektif untuk
menguranginya. Hasil studi internasional seperti PISA dan TIMSS menunjukkan
bahwa meskipun akses pendidikan sudah merata, kualitas pembelajaran dan capaian
siswa Indonesia masih jauh tertinggal dari negara-negara maju dan bahkan dari
beberapa negara tetangga di Asia Tenggara seperti Singapura, Malaysia, dan
Vietnam. Infrastruktur sekolah terutama di daerah terpencil masih
memprihatinkan dengan banyak gedung yang rusak, kekurangan fasilitas
pembelajaran, dan bahkan kekurangan guru. Kualitas guru yang sangat bervariasi
dengan banyak guru yang belum memenuhi standar kualifikasi akademik dan
kompetensi pedagogik menjadi hambatan serius dalam peningkatan kualitas
pembelajaran. Semua tantangan ini mengingatkan kita bahwa perjuangan untuk
mewujudkan pendidikan yang benar-benar merata dan berkualitas bagi semua rakyat
Indonesia belum selesai, dan memerlukan komitmen berkelanjutan dari pemerintah,
masyarakat, dan semua stakeholder pendidikan.
Sejarah
Sekolah Rakyat sebagai pelopor pendidikan gratis mengajarkan kita beberapa
pelajaran berharga yang tetap relevan hingga saat ini. Pertama, pendidikan
adalah investasi jangka panjang yang dampaknya baru dapat dirasakan setelah
satu atau dua generasi, sehingga memerlukan komitmen jangka panjang yang tidak
terpengaruh oleh pergantian pemerintahan atau kondisi ekonomi sesaat. Kedua,
akses pendidikan saja tidak cukup tanpa disertai dengan peningkatan kualitas
pembelajaran, kualitas guru, dan penyediaan fasilitas yang memadai, sehingga
kebijakan pendidikan harus holistik mencakup semua aspek. Ketiga, partisipasi
dan dukungan masyarakat sangat penting dalam keberhasilan sistem pendidikan,
karena sekolah tidak bisa bekerja sendiri tanpa dukungan dari keluarga dan
komunitas. Keempat, pendidikan harus adaptif dengan konteks lokal dan kebutuhan
masyarakat setempat, tidak bisa dipaksakan dengan model yang seragam untuk
semua daerah yang sangat beragam kondisinya. Kelima dan yang paling penting,
pendidikan bukan sekadar transfer pengetahuan teknis melainkan juga pembentukan
karakter, nilai-nilai, dan kesadaran warga negara yang akan menentukan masa
depan bangsa. Warisan Sekolah Rakyat harus terus kita jaga dan kembangkan
dengan semangat yang sama yaitu pendidikan sebagai instrumen pembebasan dan
pemberdayaan rakyat, sebuah cita-cita mulia yang harus terus diperjuangkan oleh
setiap generasi Indonesia.