Sekolah Ramah Lingkungan sebagai Perjalanan dari Program ke Kebiasaan
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya -
Gagasan sekolah ramah
lingkungan sering diperkenalkan melalui berbagai program yang terdengar ideal
dan progresif. Program tersebut biasanya hadir sebagai respons atas krisis
ekologis yang semakin nyata dalam kehidupan sehari-hari. Namun tantangan
terbesar bukan pada perumusan konsep, melainkan pada proses menjadikannya kebiasaan
yang hidup. Program dapat dirancang dengan rapi, tetapi kebiasaan membutuhkan
waktu, konsistensi, dan kesadaran kolektif. Di sinilah pergeseran makna
terjadi, dari sekadar kegiatan terjadwal menuju praktik keseharian yang
reflektif. Lingkungan yang lestari tidak lahir dari seremoni, melainkan dari
tindakan kecil yang diulang terus-menerus. Ketika kepedulian lingkungan menjadi
bagian dari rutinitas, nilai ekologis tidak lagi terasa dipaksakan. Perjalanan
inilah yang menjadi inti dari upaya ramah lingkungan yang berkelanjutan.
Dalam praktik awal, pendekatan ramah lingkungan sering
diwujudkan melalui agenda tertentu yang bersifat tematik. Agenda tersebut
berfungsi sebagai pemantik kesadaran, tetapi belum tentu membentuk perilaku
jangka panjang. Banyak individu mengikuti kegiatan karena kewajiban, bukan
karena pemahaman mendalam. Akibatnya, perilaku ramah lingkungan berhenti ketika
program selesai. Tantangan utamanya adalah mengubah kepatuhan sesaat menjadi
kesadaran personal.
Pembentukan kebiasaan ekologis menuntut perubahan cara
pandang terhadap lingkungan sekitar. Lingkungan tidak lagi diposisikan sebagai
latar pasif, melainkan sebagai ruang hidup yang perlu dijaga bersama. Kesadaran
ini tumbuh melalui pengalaman langsung dan refleksi berulang. Ketika individu
mulai merasakan dampak dari tindakan kecil, hubungan emosional dengan
lingkungan pun terbentuk. Dari sinilah kebiasaan mulai berakar.
Aspek penting lain adalah konsistensi dalam praktik
sehari-hari. Kebiasaan tidak terbentuk dari tindakan besar yang jarang
dilakukan, tetapi dari rutinitas sederhana yang terus diulang. Pengelolaan
sampah, penghematan energi, dan kepedulian terhadap ruang bersama menjadi
contoh konkret. Ketika praktik ini dilakukan tanpa paksaan, nilai ramah
lingkungan menjadi bagian dari identitas. Konsistensi inilah yang membedakan
program dari kebiasaan.
Selain konsistensi, keteladanan memegang peran kunci
dalam pembentukan kebiasaan. Nilai lingkungan lebih mudah ditiru daripada
diajarkan secara verbal. Ketika perilaku ramah lingkungan tampak nyata dalam
keseharian, ia menjadi standar sosial yang baru. Individu belajar melalui
pengamatan dan peniruan. Proses ini berlangsung secara alami dan berkelanjutan.
Transformasi dari program ke kebiasaan juga
membutuhkan ruang refleksi. Refleksi membantu individu memahami alasan di balik
setiap tindakan. Tanpa refleksi, praktik ramah lingkungan berisiko menjadi
rutinitas mekanis. Refleksi menghubungkan tindakan dengan nilai dan dampak
jangka panjang. Di sinilah kesadaran ekologis diperdalam.
Pada akhirnya, sekolah ramah lingkungan menemukan
maknanya ketika nilai ekologis hidup dalam keseharian. Program hanyalah pintu
masuk menuju perubahan yang lebih dalam. Kebiasaan adalah bukti bahwa
kepedulian lingkungan telah bertransformasi menjadi kesadaran. Perjalanan ini
memang panjang, tetapi di sanalah keberlanjutan menemukan pijakannya.
###
Penulis: Resinta Aini Zakiyah