Seni Budaya dan Prakarya (SBdP): Siswa Cari Tutorial Membuat Batik Jumputan di YouTube untuk Ujian Praktik
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Ujian praktik SBdP kelas 6 tahun ini mengangkat tema tekstil nusantara, yaitu membuat Batik Jumputan (ikat celup). Karena teknik mengikat kain menentukan motif yang dihasilkan, penjelasan lisan saja seringkali tidak cukup. Guru Seni Budaya memberikan kebebasan kepada siswa untuk mencari referensi teknik pengikatan kelereng, uang koin, atau karet gelang melalui video tutorial di YouTube. Langkah ini diambil untuk memacu kreativitas siswa agar motif yang dihasilkan beragam dan tidak seragam satu kelas.
Di kelas, siswa berkelompok menonton video dari para pengrajin batik di YouTube menggunakan laptop kelas. Mereka terkesima melihat bagaimana ikatan sederhana bisa menghasilkan pola lingkaran atau garis yang rumit saat kain dibuka. "Coba kita pakai teknik ikatan miring yang ada di video menit ke-5," usul seorang ketua kelompok. YouTube menjadi sumber inspirasi tanpa batas yang memperkaya wawasan seni siswa melampaui contoh yang ada di buku paket.
Saat sesi pencelupan warna, siswa kembali memutar video YouTube untuk melihat teknik pewarnaan gradasi. Mereka belajar cara mencampur warna merah dan kuning agar menjadi oranye yang cerah sesuai panduan visual di video. Guru bertindak sebagai fasilitator yang memastikan keamanan penggunaan pewarna tekstil dan air panas. Adanya contoh visual yang bergerak membuat siswa lebih berhati-hati dan terarah dalam bekerja.
Proses membuka ikatan karet setelah kain kering menjadi momen magis. Teriakan kagum terdengar saat motif-motif indah bermunculan, persis atau bahkan lebih bagus dari yang mereka lihat di YouTube. Siswa merasa sangat puas karena berhasil mereplikasi karya seni yang mereka pelajari secara digital. Karya kain tersebut kemudian dijahit menjadi taplak meja atau sarung bantal sebagai produk akhir semester.
Integrasi YouTube dalam pelajaran seni ini mengajarkan siswa untuk menjadi pembelajar mandiri (self-regulated learner). Mereka belajar mencari sumber, mengamati, meniru, dan memodifikasi (ATM) karya seni. Sekolah memfasilitasi akses teknologi ini untuk membuka cakrawala estetika siswa, membuktikan bahwa seni tradisional dan media digital bisa berjalan beriringan menciptakan karya yang memukau.
###
Penulis: Maulidia Evi Aprilia