Shadow Tracking: Mengamati Pergerakan Matahari dan Bayangan untuk Memahami Rotasi Bumi
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Konsep rotasi bumi dan revolusi bumi mengelilingi matahari adalah topik yang cukup abstrak dan challenging untuk siswa SD. Shadow tracking atau pelacakan bayangan adalah aktivitas outdoor learning yang brilliant untuk membuat konsep astronomis ini menjadi konkret dan observable. Dengan mengamati bagaimana bayangan benda berubah posisi dan panjang sepanjang hari, siswa dapat menyimpulkan bahwa matahari “bergerak” di langit (sebenarnya bumi yang berotasi), mengajarkan konsep perspektif dan relative motion yang fundamental dalam sains.
Aktivitas dimulai pagi hari di hari yang cerah (aktivitas ini memerlukan matahari!). Setiap kelompok siswa menempatkan tongkat vertikal (bisa tongkat kayu, atau bahkan siswa sendiri yang berdiri tegak) di lapangan terbuka. Mereka melacak ujung bayangan tongkat setiap jam dengan menandai posisinya menggunakan kapur, cat semprot, atau batu kecil, dan mencatat waktu. Mereka juga mengukur panjang bayangan setiap kali pengamatan. Aktivitas dilakukan dari pagi (sekitar jam 7) hingga sore (sekitar jam 5), memberikan data yang comprehensive tentang perubahan bayangan sepanjang hari.
Setelah seharian melakukan observasi, siswa menghubungkan semua titik ujung bayangan yang mereka tandai. Mereka akan menemukan bahwa titik-titik ini membentuk busur melengkung. Bayangan dimulai panjang di pagi hari (mengarah ke barat), menjadi paling pendek di tengah hari (mengarah ke utara/selatan tergantung belahan bumi dan musim), dan memanjang lagi di sore hari (mengarah ke timur). Discovery ini sangat exciting bagi siswa karena mereka menemukan pola sendiri dari data mereka. Guru memfasilitasi diskusi: “Mengapa bayangan bergerak?” “Apakah matahari yang bergerak atau kita?” “Mengapa bayangan paling pendek di tengah hari?”
Penjelasan ilmiah dikaitkan dengan observasi konkret. Guru menjelaskan bahwa bumi berotasi dari barat ke timur, membuat matahari terlihat bergerak dari timur ke barat. Di pagi hari, matahari berada di posisi rendah di timur, sehingga bayangan panjang dan mengarah ke barat. Saat siang hari, matahari berada di posisi tertinggi (zenith), sehingga bayangan paling pendek. Di sore hari, matahari turun di barat, bayangan memanjang ke timur. Penjelasan ini menjadi sangat meaningful karena siswa baru saja mengobservasi fenomena tersebut. Konsep rotasi bumi yang biasanya abstrak menjadi real dan understandable.
Extension activity dapat mengeksplorasi variasi bayangan di musim yang berbeda atau latitude yang berbeda. Siswa dapat melakukan shadow tracking yang sama sebulan kemudian dan membandingkan: apakah pola bayangan sama? Apakah ada perbedaan panjang bayangan maksimum atau minimum? Ini memperkenalkan konsep bahwa sudut matahari berubah sepanjang tahun (karena revolusi bumi dan kemiringan sumbu bumi), yang menyebabkan musim. Untuk kelas yang lebih advanced, siswa dapat berkomunikasi dengan “sister school” di daerah atau negara lain untuk membandingkan pola bayangan mereka - siswa di khatulistiwa akan memiliki pola berbeda dengan siswa di daerah subtropis.
Aplikasi praktis dalam kehidupan dapat didiskusikan untuk meningkatkan relevance. Diskusi: “Mengapa petani zaman dulu menggunakan bayangan untuk mengetahui waktu?” “Bagaimana cara kerja sundial (jam matahari)?” “Mengapa kita merasa lebih panas di tengah hari?” (karena matahari di posisi tertinggi, radiasi lebih intens, bayangan minimal). “Mengapa atlet lebih suka berlatih pagi atau sore?” (menghindari panas tengah hari). Koneksi dengan daily life ini membuat pembelajaran astronomis yang seringkali terasa jauh dan tidak relevan menjadi applicable dan meaningful. Shadow tracking adalah contoh sempurna bagaimana outdoor learning dapat membuat konsep sains yang kompleks menjadi accessible melalui hands-on observation dan inquiry-based learning.
###
Penulis: Nur Santika Rokhmah