Sinergi Komunitas: Gerakan Numerasi Berbasis Budaya Lokal
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Gerakan Numerasi Nasional (GNN) 2026 membuktikan bahwa matematika tidak harus selalu datang dari buku teks asing, melainkan dapat ditemukan dalam kekayaan budaya lokal Indonesia. Salah satu pilar yang paling menarik dari gerakan ini adalah integrasi etnomatematika ke dalam kurikulum sekolah dasar. Pemerintah mendorong sekolah untuk menghidupkan kembali permainan tradisional seperti Congklak, Bekel, hingga perhitungan pola kain tradisional sebagai sarana belajar logika dan aritmatika. Langkah ini bertujuan untuk menghilangkan jarak antara angka dan kehidupan siswa, menjadikan numerasi sebagai bagian yang menyenangkan dari identitas budaya mereka.
Permainan Congklak, misalnya, secara alami melatih kemampuan berhitung cepat, strategi, dan estimasi pada anak-anak usia dini. Mahasiswa pascasarjana yang melakukan penelitian mengenai etnomatematika menemukan bahwa siswa yang belajar konsep dasar angka melalui permainan tradisional memiliki tingkat retensi ingatan yang lebih tinggi dibanding yang belajar melalui ceramah konvensional. Sudut pandang ini menegaskan bahwa penjagaan mutu pendidikan dasar tidak harus selalu mengandalkan fasilitas modern yang mahal, melainkan kreativitas dalam memanfaatkan potensi budaya lokal. GNN berhasil mengembalikan "jiwa" pembelajaran yang sempat hilang akibat standardisasi kurikulum yang terlalu kaku.
Selain permainan, prinsip numerasi juga diajarkan melalui pengamatan arsitektur bangunan tradisional di berbagai daerah yang memiliki tingkat presisi geometris yang sangat tinggi. Siswa diajak untuk melihat bagaimana nenek moyang mereka menggunakan nalar matematis dalam membangun rumah adat yang tahan gempa dan estetis. Analisis ini memberikan kebanggaan intelektual bagi siswa, di mana mereka menyadari bahwa leluhur bangsa Indonesia sudah lama melek numerasi. Narasi yang dibangun adalah numerasi bukan barang impor, melainkan warisan peradaban yang harus dilestarikan dan dikembangkan melalui pendidikan modern.
GNN juga menggandeng komunitas pengrajin, petani, dan nelayan lokal untuk berbagi pengetahuan praktis tentang penggunaan angka di dunia kerja nyata. Dalam sesi "Numerasi Bersama Masyarakat", siswa belajar tentang konsep berat dan volume dari pengrajin, atau belajar tentang pola cuaca dan musim dari para nelayan. Fakta lapangan menunjukkan bahwa interaksi dengan dunia nyata ini sangat efektif dalam mendongkrak skor literasi sains dan matematika siswa karena mereka melihat kegunaan langsung dari ilmu yang dipelajari. Penjagaan mutu dengan melibatkan komunitas lokal ini menciptakan ekosistem pendidikan yang lebih organik dan berakar kuat pada realitas sosial.
Mahasiswa pascasarjana berperan sebagai kurator yang membantu mendokumentasikan praktik-praktik baik etnomatematika ini agar dapat disebarluaskan ke daerah lain secara sistematis. Mereka memastikan bahwa integrasi budaya lokal tetap selaras dengan capaian pembelajaran nasional agar tidak terjadi penurunan standar mutu akademik. Sinergi antara kearifan lokal dan metodologi riset modern ini menjadi daya tarik tersendiri bagi dunia pendidikan internasional terhadap inovasi yang dilakukan Indonesia. GNN membuktikan bahwa kemajuan tidak harus berarti melupakan akar sejarah, melainkan justru menjadikannya fondasi untuk melompat lebih tinggi dalam skor PISA global.
Pendekatan berbasis budaya ini juga terbukti mampu merangkul siswa dari latar belakang ekonomi rendah yang sebelumnya merasa terasing dari matematika yang "formal". Dengan menggunakan benda-benda di sekitar rumah, seperti biji-bijian atau batu kerikil, setiap anak memiliki akses yang sama terhadap media pembelajaran yang bermutu. GNN memastikan bahwa numerasi menjadi demokratis dan inklusif, meruntuhkan tembok eksklusivitas yang selama ini sering menyelimuti pelajaran matematika. Inilah keindahan dari gerakan nasional yang merangkul keberagaman sebagai kekuatan utama untuk mencerdaskan bangsa.
Melalui sinergi komunitas dan budaya lokal, Gerakan Numerasi Nasional 2026 sedang membangun narasi baru tentang pendidikan Indonesia yang cerdas sekaligus bangga akan identitasnya. Skor PISA Indonesia yang diproyeksikan meningkat akan menjadi bukti bahwa kearifan lokal mampu bersaing di level global jika dikelola dengan profesionalisme akademik yang tinggi. Masa depan numerasi Indonesia ada pada kemampuan kita menghubungkan masa lalu yang bijak dengan masa depan yang serba digital. Dengan pondasi budaya yang kuat, nalar anak-anak bangsa akan tumbuh menjadi pohon pengetahuan yang rimbun dan bermanfaat bagi dunia.
###
Penulis: Nur Santika Rokhmah