Siswa Mengirim Teka-teki Logika Harian yang Dibuat Sendiri lewat WhatsApp
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Grup WhatsApp kelas dapat menjadi sarana seru untuk berbagi teka-teki logika harian. Anak SD menulis teka-teki sederhana dan mengirimnya ke grup untuk dijawab teman-temannya. Aktivitas ini menggabungkan logika, kreativitas, dan literasi digital. Guru memandu agar teka-teki sesuai tingkat kemampuan anak. Anak belajar berpikir kritis, menganalisis, dan menyusun jawaban dengan tepat. Proses ini membuat belajar logika menjadi menyenangkan dan interaktif.
Setiap teka-teki diikuti diskusi singkat untuk menjelaskan cara berpikir di balik jawaban. Aktivitas ini melatih kemampuan komunikasi dan analisis anak. Guru memfasilitasi agar anak belajar menghargai strategi teman lain. Anak belajar bahwa ada banyak cara menyelesaikan masalah logika. Proses ini menumbuhkan fleksibilitas berpikir dan keterampilan problem solving. Diskusi ini membuat WhatsApp menjadi ruang belajar aktif dan kreatif.
Anak juga dapat menambahkan ilustrasi atau simbol untuk memperjelas teka-teki mereka. Aktivitas ini melatih kreativitas visual sekaligus kemampuan berpikir logis. Guru memberikan arahan agar simbol tetap sesuai dengan konteks teka-teki. Anak belajar mengekspresikan ide secara visual dan naratif. Proses ini meningkatkan pemahaman teman-teman tentang teka-teki yang dibuat. Aktivitas ini membuat belajar logika lebih menyenangkan dan imajinatif.
Selain individu, teka-teki dapat dibuat secara bergiliran antar kelompok. Anak berdiskusi tentang strategi membuat teka-teki yang menantang namun bisa diselesaikan teman. Aktivitas ini melatih kerja sama, komunikasi, dan kreativitas. Guru memfasilitasi agar proyek tetap fokus dan edukatif. Anak belajar menghargai ide teman sekaligus menyusun teka-teki yang berkualitas. Pendekatan ini membuat WhatsApp kelas lebih hidup dan interaktif.
Teka-teki harian juga bisa dikaitkan dengan pelajaran matematika atau sains. Anak belajar menerapkan konsep yang dipelajari dalam bentuk masalah nyata. Guru memberikan tantangan tambahan agar anak berpikir lebih kreatif. Aktivitas ini menumbuhkan rasa ingin tahu dan kemampuan berpikir kritis. Anak merasa tertantang untuk menyelesaikan teka-teki setiap hari. Proses ini membuat logika dan konsep pelajaran lebih menyenangkan dan aplikatif.
Secara keseluruhan, teka-teki logika harian lewat WhatsApp menjadi media pembelajaran interaktif. Anak belajar kreativitas, logika, dan kemampuan komunikasi secara bersamaan. Guru memiliki metode yang membuat anak aktif berpikir dan berpartisipasi. Aktivitas ini menumbuhkan rasa percaya diri dan motivasi belajar. Anak merasa belajar sambil bermain dan mengekspresikan ide mereka. WhatsApp menjadi sarana belajar yang hidup, menyenangkan, dan inspiratif.
###
Penulis: Della Octavia C. L