Standar yang Melunak dan Dampaknya pada Daya Saing Intelektual
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Capaian indeks prestasi yang tinggi sering disambut sebagai indikator kemajuan, namun di balik tren tersebut tersimpan persoalan mendasar tentang standar yang kian melunak dan dampaknya terhadap daya saing intelektual dalam jangka panjang. Nilai tinggi terlihat menggembirakan. Ia memberi kesan kemajuan kolektif. Namun kemajuan ini perlu ditelaah lebih dalam. Apakah ia lahir dari peningkatan kualitas atau sekadar penyesuaian standar.
Pelunakan standar sering terjadi secara bertahap. Awalnya dimaksudkan sebagai bentuk fleksibilitas. Namun lama kelamaan menjadi kebiasaan. Ketelitian dikorbankan demi kelancaran. Penilaian kehilangan ketajamannya. Standar yang seharusnya menantang berubah menjadi rutinitas.
Situasi ini berdampak pada pola belajar. Tantangan intelektual berkurang. Individu tidak terdorong melampaui batas kemampuannya. Upaya ekstra jarang mendapat nilai tambah. Semua bergerak dalam zona aman. Potensi tidak tergali optimal.
Kemampuan berpikir tingkat tinggi pun terabaikan. Analisis mendalam jarang dilatih. Sintesis gagasan menjadi lemah. Pembelajaran cenderung mekanis. Ketika dihadapkan pada persoalan kompleks, banyak yang kesulitan beradaptasi. Daya saing intelektual melemah.
Inflasi nilai juga mengaburkan proses seleksi berbasis kompetensi. Sulit membedakan siapa yang benar benar unggul. Nilai tidak lagi memberi sinyal kualitas. Keputusan strategis menjadi kurang akurat. Sistem kehilangan alat ukurnya.
Dalam jangka panjang, reputasi akademik ikut terpengaruh. Kepercayaan terhadap capaian akademik menurun. Nilai tinggi dipandang dengan skeptis. Dunia akademik kehilangan daya tawarnya. Posisi strategisnya melemah.
Fenomena ini menuntut pembenahan serius. Standar perlu ditegaskan kembali. Penilaian harus berani menantang. Tanpa langkah korektif, inflasi nilai akan terus menggerus daya saing intelektual.
###
Penulis : Resinta Aini Zakiyah.