STRATEGI GURU MENGELOLA KONFLIK ANTAR SISWA KELAS RENDAH
s2dikdas.fip.unesa.ac.id,
Surabaya — Di kelas-kelas awal Sekolah Dasar, konflik kecil antar siswa adalah
hal yang wajar terjadi. Entah karena berebut alat tulis, tidak sepakat saat
kerja kelompok, atau hanya salah paham dalam bermain. Namun, jika tidak
dikelola dengan tepat, konflik ini dapat memengaruhi suasana belajar dan
perkembangan sosial anak. Oleh karena itu, guru memiliki peran penting sebagai
fasilitator yang tidak hanya mengajar, tetapi juga membimbing anak-anak dalam
memahami dan menyelesaikan perbedaan secara sehat.
Strategi
pertama yang bisa dilakukan guru adalah mengenalkan aturan kelas secara
partisipatif. Anak-anak perlu merasa memiliki aturan yang mereka buat bersama.
Hal ini membantu mereka lebih sadar terhadap konsekuensi dari tindakan mereka
sendiri. Kedua, guru dapat mengembangkan keterampilan komunikasi empatik,
seperti mendengarkan dengan saksama, menyampaikan perasaan tanpa menyalahkan,
dan menggunakan bahasa yang ramah. Dengan membiasakan ini dalam percakapan
kelas, siswa belajar menyelesaikan konflik tanpa kekerasan.
Selanjutnya,
guru dapat memanfaatkan momen konflik sebagai pembelajaran sosial. Alih-alih
langsung menghukum, guru bisa mengajak kedua pihak untuk duduk bersama,
bercerita, dan mencari solusi bersama. Strategi mediasi seperti ini mengajarkan
anak untuk bertanggung jawab atas pilihan mereka. Selain itu, kegiatan seperti
bermain peran (role play) atau membaca cerita tentang persahabatan dan
toleransi dapat menumbuhkan empati dan memperkuat nilai kebersamaan.
Mengelola
konflik di kelas rendah bukan hanya tentang menjaga ketertiban, tetapi juga
tentang membentuk karakter dan kemampuan sosial anak. Guru yang peka dan
konsisten dalam mendampingi anak menyelesaikan konflik akan menciptakan ruang
belajar yang aman, ramah, dan membangun bagi semua siswa.
###
Penulis: Sevian Ageng
Wahono
Dokumentasi: Freepik