Studi Kasus SD X: Peningkatan Nilai Proyek Sains Setelah Adopsi Penggunaan Canva
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Sebuah studi kasus baru-baru ini di Sekolah Dasar X menunjukkan korelasi positif yang signifikan antara adopsi wajib penggunaan Canva untuk proyek-proyek akhir dengan peningkatan kualitas dan nilai rata-rata proyek siswa, khususnya pada mata pelajaran Sains dan Bahasa. Studi ini menyoroti bagaimana alat digital yang tepat dapat tidak hanya memperindah, tetapi juga meningkatkan pemahaman konseptual siswa SD.
Sebelum adopsi Canva, proyek Sains siswa sering kali berupa papan poster yang dibuat dengan tangan yang terlihat tidak rapi atau laporan yang hanya berupa teks panjang. Setelah diperkenalkan pada Canva, siswa diminta menyajikan temuan proyek mereka dalam bentuk infografis, diagram alir, atau komik Sains digital. Pengubahan format ini memaksa siswa untuk berpikir secara berbeda tentang presentasi data dan konsep ilmiah.
Peningkatan utama terletak pada kemampuan siswa menyusun dan menyaring informasi. Untuk membuat infografis yang ringkas di Canva, siswa harus mengidentifikasi poin-poin terpenting (konsep inti) dan menyajikannya secara visual. Proses ini adalah latihan pemikiran tingkat tinggi; mereka harus menganalisis, mensintesis, dan merangkum. Guru melaporkan bahwa siswa kini memahami hubungan antar konsep dengan lebih baik, bukan hanya menghafal fakta-fakta.
Selain itu, keterlibatan dan motivasi siswa meningkat tajam. Siswa kelas 5 SD yang sebelumnya enggan membuat laporan kini lebih antusias dalam "mendesain" laporan mereka. Aspek kreatif dari Canva mengubah tugas yang membosankan menjadi tantangan yang menyenangkan. Hal ini tercermin dalam nilai estetika dan kejelasan presentasi yang lebih baik, yang pada akhirnya memengaruhi nilai akhir proyek mereka.
Kesimpulan dari SD X adalah bahwa Canva berfungsi sebagai alat penghubung antara pengetahuan dan komunikasi. Alat ini memungkinkan siswa SD untuk mengekspresikan pemahaman mendalam mereka tentang suatu topik dengan cara yang menarik dan mudah dicerna. Studi kasus ini menjadi bukti nyata bagi sekolah dasar lain bahwa teknologi desain grafis tidak hanya tentang eye-candy, tetapi merupakan komponen integral dari keterampilan komunikasi dan berpikir analitis siswa modern.
Penulis : Reynaldo Hari Prastiyo