Tanggung Jawab Kolektif dalam Menjamin Akses Inklusi yang Berkeadilan
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya - Inklusi pada pendidikan dasar bukan hanya urusan teknis, melainkan tanggung jawab kolektif yang melibatkan berbagai pihak. Siswa berkebutuhan khusus membutuhkan sistem yang mampu melindungi hak mereka untuk belajar dan berkembang. Oleh karena itu perlu ada kesadaran bahwa inklusi tidak dapat berjalan hanya dengan niat baik, tetapi harus didukung komitmen nyata yang terwujud dalam tindakan bersama. Evaluasi tentang tanggung jawab kolektif ini menjadi penting karena menentukan sejauh mana inklusi dapat diwujudkan secara berkelanjutan.
Peluang besar terlihat ketika banyak pihak mulai menyadari bahwa inklusi merupakan bagian dari keadilan sosial. Anak berkebutuhan khusus bukan pihak yang harus bersyukur diberi kesempatan, tetapi memang memiliki hak yang melekat sejak lahir. Kesadaran ini membangun komitmen moral agar inklusi tidak dilakukan setengah hati, melainkan sebagai upaya serius untuk menegakkan nilai kemanusiaan.
Dalam tanggung jawab kolektif ini setiap pihak memiliki peran masing masing. Lingkungan sekitar berperan menciptakan suasana yang ramah, keluarga berperan mendukung kesiapan anak, dan komunitas sosial berperan memperkuat jaringan dukungan. Ketiga unsur ini saling terhubung membentuk lingkaran kuat yang menentukan keberhasilan inklusi.
Namun tantangan muncul ketika tanggung jawab tersebut tidak dipahami secara merata. Ada pihak yang merasa inklusi bukan urusan mereka. Sikap lepas tangan seperti ini membuat proses dukungan menjadi tidak seimbang. Anak berkebutuhan khusus akhirnya tidak mendapatkan perlindungan yang memadai dalam perjalanan inklusinya.
Hambatan lainnya adalah kurangnya koordinasi dan komunikasi. Tanpa kerja sama yang baik, langkah langkah yang dilakukan sering berjalan parsial dan kurang efektif. Padahal inklusi memerlukan keselarasan agar siswa berkebutuhan khusus tidak terjebak dalam situasi yang membingungkan atau menekan.
Meski begitu berbagai inisiatif positif mulai tumbuh. Banyak komunitas bergerak membangun dukungan, membuka ruang diskusi, serta menguatkan kesadaran tentang inklusi. Inisiatif ini memperlihatkan bahwa ketika tanggung jawab dipahami sebagai kerja bersama, inklusi memiliki ruang berkembang yang lebih luas.
Pada akhirnya inklusi pendidikan dasar hanya dapat berjalan baik jika dipandang sebagai tanggung jawab kolektif. Dengan komitmen bersama, perhatian yang konsisten, dan koordinasi yang kuat, anak berkebutuhan khusus memiliki peluang lebih besar untuk mendapatkan akses belajar yang adil, bermakna, dan penuh penghargaan terhadap martabat manusia.
###
Penulis: Resinta Aini Zakiyah