Tantangan dan Solusi: Menerapkan Pembelajaran Mendalam di Era Kurikulum Merdeka
Menerapkan pembelajaran mendalam dalam kerangka Kurikulum
Merdeka bukanlah pekerjaan mudah. Berbagai tantangan muncul dari level sistem
hingga level individu guru dan siswa. Namun, setiap tantangan memiliki solusi
yang dapat diantisipasi dan diatasi. Pemahaman yang jelas tentang tantangan
membantu stakeholder mempersiapkan diri dengan lebih baik. Artikel ini
mengidentifikasi tantangan utama dan menawarkan solusi praktis yang telah
terbukti efektif.
Banyak guru dan stakeholder pendidikan masih nyaman
dengan zona aman metode tradisional. Perubahan memerlukan effort ekstra dan
menghadapi ketidakpastian yang tidak semua orang siap. Ada ketakutan bahwa
pembelajaran mendalam akan membuat siswa tidak siap menghadapi ujian. Orang tua
yang terbiasa dengan rapor berbasis angka mungkin resisten terhadap perubahan
sistem penilaian. Resistensi ini normal dan perlu dikelola dengan strategi
change management yang tepat.
Mulailah dengan membangun awareness tentang
pentingnya pembelajaran mendalam melalui workshop dan seminar. Tunjukkan bukti
riset dan contoh sukses dari sekolah lain yang sudah menerapkan. Libatkan guru
dalam proses perancangan perubahan sehingga mereka merasa ownership. Berikan
dukungan berkelanjutan melalui coaching dan mentoring, bukan hanya pelatihan satu
kali. Rayakan small wins untuk membangun momentum dan kepercayaan diri. Dengan
pendekatan yang sistematis, resistensi dapat diubah menjadi antusiasme.
Tidak semua guru memiliki keterampilan pedagogis
untuk menerapkan pembelajaran mendalam. Kemampuan merancang pertanyaan terbuka,
memfasilitasi diskusi, dan melakukan asesmen autentik masih terbatas. Banyak
guru terbiasa dengan pola mengajar yang teacher-centered dan directional.
Kurangnya pemahaman tentang bagaimana siswa belajar (learning science) menjadi
hambatan. Pengembangan kompetensi guru menjadi prioritas utama dalam
transformasi ini.
Rancang program pelatihan guru yang berkelanjutan,
bukan hanya workshop singkat. Gunakan pendekatan lesson study di mana guru
belajar bersama melalui praktik. Sediakan coaching on-site yang memberikan
feedback langsung dalam konteks kelas nyata. Bangun komunitas praktisi melalui
grup WhatsApp atau platform digital untuk sharing praktek. Manfaatkan guru-guru
yang sudah mahir sebagai mentor bagi yang lain. Pengembangan kompetensi paling
efektif ketika tertanam dalam praktik sehari-hari.
Pembelajaran mendalam memerlukan sumber belajar yang
beragam dan berkualitas yang tidak selalu tersedia. Keterbatasan teknologi dan
akses internet di daerah tertentu menjadi hambatan. Selain itu, tekanan untuk
menyelesaikan materi membuat guru merasa tidak punya waktu untuk pembelajaran
mendalam. Struktur jadwal yang rigid juga membatasi fleksibilitas yang
diperlukan. Masalah sumber daya dan waktu perlu diatasi secara kreatif dengan
memanfaatkan apa yang ada.
Untuk sumber daya, manfaatkan bahan-bahan lokal dan
pengalaman langsung sebagai sumber belajar. Bangun perpustakaan digital sekolah
dengan e-book dan video pembelajaran gratis. Untuk masalah waktu, prioritaskan
pembelajaran mendalam pada konsep-konsep kunci, tidak semua topik. Negosiasikan
dengan kepala sekolah untuk jadwal yang lebih fleksibel. Integrasikan berbagai
mata pelajaran dalam pembelajaran tematik untuk efisiensi waktu. Yang
terpenting, ubah paradigma dari "mengejar materi" menjadi
"memastikan pemahaman". Dengan kreativitas dan komitmen,
tantangan-tantangan ini dapat diatasi untuk mewujudkan pembelajaran
berkualitas.
###
Penulis: Neni Mariana