Tantangan Guru dalam Mengimplementasikan Pembelajaran Nalar Kritis pada Kurikulum Merdeka
S2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Guru menjadi ujung tombak dalam implementasi Kurikulum Merdeka, terutama dalam upaya membangun nalar kritis siswa. Namun, mereka menghadapi berbagai tantangan yang memengaruhi kemampuan untuk menerapkan pembelajaran yang efektif. Salah satu tantangan utama adalah perubahan peran yang harus mereka lakukan – dari sebagai penyampaian informasi menjadi fasilitator pembelajaran yang mendorong siswa untuk berpikir secara mandiri dan kritis. Perubahan ini membutuhkan penyesuaian pola pikir dan keterampilan yang tidak selalu mudah dicapai dalam waktu singkat.
Keterbatasan pengetahuan dan keterampilan guru dalam metode pembelajaran yang mendukung nalar kritis menjadi hambatan signifikan. Banyak guru yang telah mengikuti pelatihan namun masih merasa kurang kompeten untuk menerapkan teknik seperti problem-based learning, diskusi terarah, atau penelitian siswa. Selain itu, kurangnya akses terhadap sumber daya pembelajaran yang berkualitas – seperti buku referensi, alat eksperimen, atau teknologi informasi – membuat sulit bagi guru untuk menyusun kegiatan pembelajaran yang menarik dan mendukung pengembangan kemampuan kritis siswa.
Jumlah siswa yang banyak di setiap kelas menjadi tantangan lain yang tidak dapat diabaikan. Dengan jumlah siswa yang mencapai 30 hingga 40 orang per kelas, guru kesulitan untuk memberikan perhatian individu kepada setiap siswa dan memfasilitasi diskusi yang mendalam. Hal ini membuat sulit untuk mengidentifikasi kebutuhan belajar setiap siswa dan memberikan umpan balik yang konstruktif untuk meningkatkan kemampuan nalar kritis mereka. Selain itu, waktu yang tersedia dalam jam pelajaran juga seringkali tidak cukup untuk melakukan kegiatan pembelajaran yang komprehensif.
Tantangan juga datang dari faktor eksternal seperti harapan orang tua dan sistem penilaian yang masih terkadang lebih fokus pada hasil akademik berbasis nilai. Banyak orang tua yang masih menganggap bahwa keberhasilan pendidikan diukur dari nilai rapor, sehingga mereka cenderung lebih suka jika guru fokus pada pembelajaran yang menunjang pencapaian nilai tinggi daripada pada pengembangan kemampuan berpikir kritis. Selain itu, sistem penilaian yang belum sepenuhnya selaras dengan tujuan kurikulum juga membuat guru kesulitan untuk sepenuhnya berfokus pada pembentukan nalar kritis.
Meskipun tantangannya banyak, guru terus berusaha untuk mengatasi hambatan yang ada dan meningkatkan kualitas pembelajaran. Banyak guru yang secara mandiri mencari informasi dan berkolaborasi dengan rekan sejawat untuk berbagi pengalaman dan ide-ide baru. Pemerintah dan lembaga pendidikan juga mulai memberikan dukungan yang lebih baik melalui pelatihan berkelanjutan, penyediaan sumber daya, dan perbaikan sistem penilaian. Dengan dukungan yang memadai dan komitmen yang kuat dari guru sendiri, tantangan yang dihadapi dapat diatasi untuk mewujudkan tujuan Kurikulum Merdeka dalam mengembangkan nalar kritis siswa.
###
Penulis: Ailsa Widya Imamatuzzadah