Tantangan Teknis dan Infrastruktur: Hambatan Adopsi Canva di SD Pedalaman
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Meskipun Canva menawarkan banyak manfaat, adopsi di sekolah dasar, terutama di daerah pedalaman atau yang minim sumber daya, menghadapi tantangan teknis dan infrastruktur yang signifikan. Mengingat Canva adalah platform berbasis online dan cukup intensif data, keterbatasan akses menjadi penghalang utama bagi pemerataan pendidikan digital.
Masalah utama adalah koneksi internet yang tidak stabil atau tidak ada sama sekali. Di banyak SD di daerah terpencil, guru dan siswa tidak dapat mengakses Canva secara real-time untuk membuat atau menyimpan proyek mereka. Bahkan jika ada internet, kecepatan yang lambat membuat proses loading template dan elemen visual memakan waktu lama, mengganggu alur pelajaran dan membuang waktu kelas yang berharga.
Tantangan kedua adalah ketersediaan perangkat keras yang memadai. Untuk menggunakan Canva secara efektif, idealnya siswa membutuhkan komputer atau tablet. Banyak SD yang masih mengandalkan satu atau dua unit komputer lama untuk seluruh kelas, yang membuat sesi praktik desain menjadi terbatas dan tidak personal. Menggunakan Canva di ponsel, meskipun mungkin, kurang optimal untuk pekerjaan desain detail.
Untuk mengatasi hambatan ini, pemerintah dan yayasan pendidikan perlu memikirkan strategi kompensasi. Ini bisa berupa:
Peningkatan infrastruktur Wi-Fi sekolah.
Penyediaan device yang memadai melalui program pemerintah.
Pelatihan guru tentang cara menyiapkan tugas Canva yang dapat diselesaikan di rumah (jika siswa memiliki akses di rumah) atau cara mengunduh template dasar untuk dimodifikasi secara offline jika memungkinkan.
Intinya, potensi Canva untuk meningkatkan literasi visual dan kreativitas di SD tidak boleh hanya dinikmati oleh siswa di perkotaan. Diperlukan kebijakan pro-aktif untuk mengatasi jurang infrastruktur ini, memastikan bahwa setiap siswa SD, di mana pun lokasinya, memiliki kesempatan yang sama untuk menjadi desainer dan komunikator visual di era digital.
Penulis : Reynaldo Hari Prastiyo