Tanya AI Dulu! Cara Baru Anak Belajar di Era Digital
Bayangkan seorang siswa kelas 4 yang sedang
mengerjakan tugas menulis cerita. Ia kebingungan memilih kata pembuka yang
menarik. Dengan cepat, ia membuka aplikasi dan mengetik: “Bantu buat kalimat
pembuka dong!” Dalam hitungan detik, ia mendapatkan berbagai pilihan ide.
Itulah salah satu potret baru dalam dunia pembelajaran: hadirnya kecerdasan
buatan seperti ChatGPT di kelas-kelas SD.
ChatGPT adalah model bahasa berbasis AI yang mampu
memberikan jawaban, ide, hingga contoh teks sesuai permintaan pengguna. Dalam
konteks pendidikan dasar, teknologi ini dapat menjadi asisten belajar yang
mendukung perkembangan literasi, kreativitas, dan rasa ingin tahu siswa. Namun,
pemanfaatannya perlu diarahkan dan diawasi guru agar tetap sesuai tujuan
pendidikan.
Dalam teori konstruktivisme sosial Vygotsky,
belajar terjadi melalui interaksi dengan orang lain yang lebih ahli. Dalam
kasus ini, ChatGPT dapat berperan sebagai “mitra belajar” yang membantu siswa
saat mereka menghadapi kesulitan di zona perkembangan proksimal. Guru dapat
memanfaatkannya untuk memantik pemikiran awal: misalnya, memberikan contoh teks
deskripsi sebelum siswa mengembangkan tulisannya sendiri.
Contoh implementasi di kelas: ketika belajar
menulis laporan hasil observasi, siswa dapat bertanya kepada ChatGPT tentang
struktur teks atau bagaimana memilih kata baku. Guru bisa mengarahkan siswa
untuk mengkritisi jawaban AI, bukan langsung menyalin. Kegiatan ini tidak hanya
melatih literasi digital, tetapi juga kemampuan evaluatif siswa dalam memilah
informasi.
Meski demikian, penggunaan AI tidak lepas dari
risiko. Pertama, siswa bisa menjadi pasif—lebih memilih meminta AI menuliskan
semuanya daripada berpikir sendiri. Kedua, jawaban AI terkadang kurang tepat
atau tidak sesuai konteks Indonesia. Ketiga, potensi plagiarisme semakin besar
karena mudahnya menyalin hasil teks yang sudah dibuat mesin.
Untuk itu, peran guru sangat penting dalam
menetapkan batasan. Beberapa strategi yang dapat dilakukan:
- Tetapkan aturan penggunaan —
misalnya, ChatGPT hanya boleh digunakan untuk brainstorming, bukan
menyalin teks utuh.
- Latih keterampilan verifikasi informasi —
siswa harus membandingkan jawaban AI dengan sumber lain.
- Dorong kreativitas pribadi —
tugas menulis harus tetap menuntut orisinalitas siswa.
- Diskusikan etika digital —
termasuk hak cipta dan pentingnya berpikir kritis.
Dengan pendampingan yang tepat, ChatGPT justru
dapat memperkaya pengalaman belajar. Ia dapat membantu siswa yang kesulitan
membaca, memberi ide kepada anak yang pemalu, dan menyediakan sumber informasi
alternatif ketika akses buku terbatas. Teknologi ini bukan pengganti guru,
melainkan alat bantu untuk meningkatkan kualitas pembelajaran yang humanis.
Penulis: Windha Ana Sevia