Think Global, Translate Local: Optimalisasi Teknologi Bahasa dalam Pendidikan Dasar Menuju Target SDGs
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya —Pemanfaatan fitur translate dalam pendidikan dasar kini menjadi bagian dari transformasi digital yang tidak bisa dihindari, terutama dalam upaya menyiapkan generasi yang literat global sejak dini. Teknologi ini memungkinkan siswa mengakses wawasan internasional meskipun berasal dari lingkungan lokal dengan keterbatasan bahasa, sehingga secara langsung mendukung SDGs poin 4 (Quality Education) dan 10 (Reduced Inequalities). Di era globalisasi, kemampuan memahami informasi lintas bahasa menjadi modal penting dalam menyongsong masa depan berkelanjutan. Namun, pemanfaatannya harus dibingkai dalam strategi pedagogik yang mendalam, bukan sekadar alat penerjemahan instan. Jika tidak diarahkan secara tepat, teknologi translate justru berpotensi melemahkan proses berpikir reflektif siswa, karena mereka terbiasa mendapatkan jawaban tanpa memahami struktur dan konteks maknanya.
Secara akademik, penggunaan translate pada pendidikan dasar dapat menjadi stimulus literasi digital yang kuat, tetapi juga memunculkan dilema dalam perkembangan kognitif bahasa anak. Anak usia sekolah dasar masih berada pada tahap konkret operasional, sehingga guru harus memastikan penggunaan translate dilakukan dengan pendekatan kontekstual dan berbasis pemahaman. Strategi seperti guided translation, analisis kata kunci, dan diskusi makna budaya menjadi kunci agar teknologi ini mendukung kemampuan berpikir kritis bukan sekadar hafalan kata. Dengan model pembelajaran terintegrasi SDGs, pemanfaatan translate dapat diarahkan pada pemahaman tema global seperti lingkungan, perdamaian, dan keberagaman sosial. Hal ini menjadikan kegiatan menerjemahkan bukan hanya latihan bahasa, tetapi bagian dari pendidikan nilai dan karakter global.
Di sisi lain, ketergantungan berlebihan terhadap translate dalam aktivitas belajar dapat menjadi hambatan terhadap perkembangan kemampuan literasi alami siswa. Proses membaca, menulis, dan memahami bahasa harus tetap menjadi fondasi sebelum teknologi digunakan sebagai alat penyokong. Ketika siswa langsung mengandalkan terjemahan digital, kemampuan inferensi dan penyusunan struktur kalimat bisa terbatas. Oleh karena itu, sekolah perlu menerapkan mekanisme kontrol penggunaan teknologi bahasa melalui kurikulum berbasis literasi kritis. Guru juga harus melakukan evaluasi terhadap hasil terjemahan digital agar tidak terjadi kesalahan interpretasi makna yang dapat berpengaruh pada pemahaman materi pembelajaran ataupun nilai moral yang disampaikan.
Lebih jauh, pemanfaatan translate memiliki potensi besar dalam mendukung pembelajaran berbasis proyek (Project-Based Learning) yang diarahkan untuk pencapaian SDGs. Melalui aktivitas seperti menerjemahkan cerita anak dari negara berbeda, memahami petunjuk eksperimen sederhana dari luar negeri, atau membaca artikel ilmiah anak tingkat internasional, siswa dapat meningkatkan kesadaran global dan empati budaya. Dengan dukungan guru, hasil translate dapat dijadikan bahan diskusi tentang perbandingan kehidupan sosial, kondisi lingkungan, atau inovasi pendidikan di berbagai negara. Hal ini membentuk cara pandang global sejak jenjang pendidikan dasar tanpa meninggalkan nilai lokal, sesuai konsep “Think Global, Act Local”.
Pada akhirnya, penerapan fitur translate dalam pendidikan dasar harus dikembangkan sebagai keterampilan literasi global yang mendukung penguatan kecakapan digital sekaligus pencapaian SDGs secara strategis. Sekolah perlu mempersiapkan guru dengan pelatihan penggunaan teknologi penerjemah yang edukatif dan etis, serta memastikan bahwa proses belajar tetap menekankan kemampuan interpretasi mandiri. Kolaborasi dengan penyedia teknologi pendidikan dapat membantu menghadirkan aplikasi translate yang adaptif dengan kebutuhan anak. Dengan desain pembelajaran yang tepat, translate dapat berkembang menjadi jembatan menuju pendidikan masa depan yang inklusif, berwawasan internasional, dan berkelanjutan sejak bangku sekolah dasar.
###
Penulis: Putri Arina Hidayati
Dokumentasi: Google_RRI